The Meeting Point

Stories Behind the Making of Newspaper

Holler Back at You

by A. Kuhon

(menanggapi "say hello" dari Bang David Ryan Soepyan)


David (dan teman-teman),
Warga di milis ini adalah teman-teman mantan Harian Jayakarta (Meoko, Diana, Harpon, Mulia, Ketty, Novi dll), dan mantan Harian Jakarta (Tio, Lila, Cice, Nina, Uli, Agus, Iwan, Yulius, Coki dkk). Selisih generasinya sekitar 15 tahunan, tetapi semangatnya tampaknya masih sama. Sebagian besar

Harpon tidak pernah muncul, mungkin selam ini cuma mantau doang lewat blackberry. Maklum lawyer, kan waktunya sangat sempit. Mulia (sekarang bos Monitor Indonesia) juga begitu. Kalau Meoko (bos Sinar Harapan) pernah juga mampir, habis itu ngilang lagi. Beberapa waktu yang lalu saya jumpa Primus, yang sekarang sudah jadi bos di Suara Pembaruan dan Investor.

Tidak terasa, sudah hampir 20 tahun kita lewati saat-saat kebersamaan di Harian Jayakarta. Masih ingat zaman antre mesin ketik Remington (yang cuma 6 unit) setiap pulang liputan? Ada Suud, Yonathan, Santhy, Arlita, Is dan lain-lain. Tahun yang lalu aku masih ketemu dengan Bang Kumis Khairudin Zaman dan Yashinto (sekarang di Investor juga). Masih ingat nggak waktu kita bongkar kasus mafia tanah? Korupsi di PDAM, penyelewengan PLN, jalur hijau Condet dan lain-lain? Berangkat subuh pulang sudah lewat tengah malam, dengan gaji pas-pasan dan harus antre mesin tik! Dalam waktu enam bulan, kita bikin warga Jakarta terperangah membaca liputan kita. Padahal total tim kita (termasuk Hasan alm, layoutman Kumis dll) cuma belasan orang.
Teman-teman mantan Harian Jakarta belum lama ini bikin acara kumpul-kumpul di Bandar Jakarta. Yang datang cewek semua, dan mereka menyebut dirinya the Jak's Angels. Waktu baru bergabung juga sama dengan generasi Jayakarta, walau penguasaan teknologi sudah agak canggih sehingga saya tidak perlu ngajarin ngetik pakai komputer lagi seperti tahun 1989an! Sebagian dari mereka sekarang malah sudah sangat mahir bermultimedia.
Makanya Vid, jangan menghilang melulu. Sesekali berinteraksilah dengan rekan-rekan lain. Jadi wartawan, mungkin kita sulit kaya. Tapi harus punya kesombongan. Biar kere asal sombong, dan kadang-kadang biar bodoh asal sombong!

Primus pernah janji mau jadi tuan rumah reuni Jayakarta. Tapi belum juga terlaksana. Mungkin harus kita runding-runding dan cari waktu yang tepat. Paling tidak, melalui milis ini kita bisa saling berkumpul lagi.
Salam!

Lihat ah..

by Choki


www.warungolahraga.com
Di Sini, Semuanya Ada!

Portal ini bakal jadi portal olahraga terlengkap di Indonesia Jurnalisme tanpa memihak. Karena keberpihakan adalah racun
Mohon dukungan dan doanya

Tetap semangat. God bless

...berbahagialah orang yang melakoni pekerjaannya laiknya rekreasi... (Andy F Noya, dalam satu perbincangan santai)

YUK, Tidak Kukuruyuk lagi

by YUK



Akademi Pariwisata JIH, lantai III
Medio tahun 2005,

Suasana rapat redaksi sore itu tidak menggairahkan lagi bagi saya. Buram, tidak ada kepastian dan sama seperti kebanyakan rapat di hari sebelumnya, tanpa visi. Di ujung meja, Pak Bob tampak menghisap dalam-dalam rokoknya. Sambil mengusap perut buncitnya, beliau memberikan arahan-arahan kepada redaktur untuk hal-hal apa saja yang akan kita sajikan esok pada pembaca.

Suasana bertambah lesu ketika Philip Situmorang menyatakan pengunduran dirinya dari jajaran redaksi. Kami sebagai rekan senasib sepenanggungan, yang menunggu godot atas terbit tidaknya Koran Jakarta esok hari, hanya bisa memandang lirih. Tempe, demikian kami panggil Philip, juga cuma bisa tertunduk lesu. Apa lacur, periuk nasi dan kepulan asap dapur memaksanya untuk banting stir dan kembali ke dunia yang sudah membesarkan namanya, dunia radio!

Sore itu, sebelum rapat, saya bertemu Pak Tio di pos satpam. Dengan tas besar di punggungnya, Pak Tio menolak naik ke lantai III dan memilih bertemu saya di pos satpam pinggir jalan. Saya utarakan niat saya untuk mencoba nasib ke harian olahraga GOAL. Beliau memberikan wejangan dan petunjuk serta berjanji membantu karena ada seorang kawannya yang bertugas sebagai redaktur di sana. Di kemudian hari, saya berterima kasih pada Pak Tio atas pertemuan sore itu. Berkat dorongan dan sharing pengalamannya maka saya tidak lagi canggung untuk berkecimpung di desk Olahraga.

Kembali ke rapat. Saya utarakan juga pengunduran diri saya kepada teman-teman lainnya. Pak Bob, Mba Panti, Pak Asep tampak terkejut. Apa mau dikata, bersama saya ikut juga hijrah Pak Repianto (lay out dan design grafis Harian Jakarta) ke GOAL. Berat dan sedih rasanya melangkah dari halaman gedung yang telah menempa saya dengan banyak pengalaman selama tahun-tahun awal saya sebagai jurnalis. Segumpal rasa bangga juga memenuhi dada saya karena bisa bertemu dengan orang-orang hebat di luasnya belantara media Indonesia. Hampir menangis haru rasanya saat membenahi barang-barang di meja saya, suasana kantor semakin sepi, bangku-bangku yang dulu ramai terisi kini sudah melompong anpa penghuni. Komputer-komputer mati seakan menjadi teman kami beebrapa bulan terakhir sebelum Koran Jakarta benar-benar dinyatakan kolaps!

Masih ingat orientasi pertama bersama Albert Kuhon, Barry Sihotang dan Neta S. Pane soal dasar-dasar jurnalistik. "KISS! Keep It Short and Simple! Itu azas pemberitaan yang harus diingat!" kata Albert Kuhon di kelas Minggu siang. Beberapa wajah yang baru kenal, Lila Intana, Ulisari Eslita, Cice Lulu, Herwanto, dll termasuk saya hanya bisa menyaksikan terpana penjelasan beliau. Ya, sebagian dari kami memang baru saja lulus dari bangku kuliah, sebagian sudah bekerja sebagai jurnalis, sebagian lain dari profesi berbeda. Tapi tekad kuat membara di hati kami untuk segera melakukan peliputan, mengejar narasumber dan menembus ketatnya birokrasi para petinggi publik Jakarta.

Kini, semua tinggal kenangan. Kami memulai hidup baru di belantara media dengan bekal yang kami dapat di Harian Jakarta -- Koran Jakarta. Tidak pernah pudar masa indah dan kenangan mendalam tentang makian David Tjiu dan Timbo Siahaan pada kami, melihat keluguan Upa Labuhari bersama PIlars, dan serentet kisah hidup anak manusia yang dirangkum Sang Nasib di lantai III. Saya, Yulius Kristanto, bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa karena boleh mengenal kalian semua, senior, teman sejawat, kerabat dan pekerja keras yang dititipkan Tuhan untuk menemani hari-hari saya di sana.

Di suatu malam, saya dan tunangan, Febria Silaen (mantan reporter desk LENGGANG) mampir sekedar ingin mengulang nostalgia kami akan Gedung Akademi PAriwisata lantai III. Malam itu kami hanya makan nasi goreng, tapi hati ini seperti tersayat saat melihat gedung yang dulu menjadi kantor kita. Rasa kangen, rindu dan banyak perasaan lain bercampur aduk. Apa kabar rekan-rekan sekalian? Orang yang pernah mengisi lembaran hidup kami dengan suka dan duka, tawa dan airmata?

Semoga Tuhan memberkati kalian selalu, dimana saja kalian berada, apapun yang kalian lakukan dibuatNya berhasil.

PS : Kumpul ya pas nikahan kami (Yuk dan Ria) tanggal 6 Desember 2008 di Gedung Dinas Pengembangan Daerah Depdagri Kalibata jam 19.00 WIB, undangan menyusul masih dicetak... (heheheh..)

Pelajaran di balik "Hajar"

by Norman Meoko


Pernyataan Mbak Nina saya aminkan!

Ya...Bang Kuhon memang pandai menciptakan wartawan yang tangguh, dan tetap mengabdi kepada profesi. Salah satunya adalah saya ketika masih baru memulai menapaki hidup di dunia kewartawanan. Bang Kuhon ini dulu redaktur pelaksana saya di Harian JAYAKARTA. Bang Kuhonlah yang menerpa saya. Awalnya sakit, gondok, dongkol dan kadang menantangnya. Belakangan saya tahu berkat itulah saya menjadi wartawan (dan kini saya mencoba membagi ilmu saya itu kepada mahasiswa saya di kampus tercinta).

Berkat Bang Kuhon ini saya masih bertahan menjadi wartawan. Makasih Bang! Tanpa terpaan Abang saya tidak seperti sekarang ini yang masih stia mempertahankan profesi sebagai pemburu berita.

(norman meoko, SINAR Harapan)

Kangennya Nina

by Nina


Bicara kangen, siapa sih yang nggak kangen dengan masa-masa di HarJak. Sebenernya, kalau aja ada orang "gila" yang mengatakan, "Hayo, Anda terbitkan lagi Harian Jakarta (bukan KORAN Jakarta), saya sediakan uangnya, unlimited!" Lalu orang tersebut meminta Bos AK memimpin kembali dan jika saya ditawarkan untuk gabung, saya pasti akan gabung kembali!! :D

Sungguh, kangen banget masa-masa menjadi reporter. Saya ngerasa, belum tuntas Bang AK mendidik saya sebagai wartawan badung. hehehe.. Mungkin saya satu-satunya wartawati bimbingan Bang AK yang berbalik menantang beliau, setelah setengah jam dimaki-maki karena membuat berita jelek (sampe-sampe Bang Bek pucat pasi begitu saya keluar ruangan) hahaha..

Mungkin Bang AK ingat, setelah memarahi dan menceramahi, saya malah balik menantang, "Kalau saya salah, tolong ajari saya gimana caranya supaya benar. Karena, saya nggak mau salah terus, Bang.." Dan waktu itu, saya ingat banget Bang AK menyangsikan ucapan saya, "Ah paling-paling kamu cuman ngomong begitu doang di depan saya. Di belakang saya nanti kamu ngomongin beda." Saya meyakinkan beliau, meski saya badung, saya bukan jenis orang yang khianat. Dan, jika saya minta beliau mengajari saya, artinya saya memang benar-benar ingin diajari, karena saya nggak mau terus2an bikin laporan yang salah. Saya ingin "jadi", tidak ingin abal-abalan.

Sayang, hanya 2x pelajaran tambahan saja yang sempat diberikan Bang AK, sebelum akhirnya beliau mengundurkan diri dari HarJak. Dan, saya juga masih ingat ketika kami (saya, Ririen, Uul, sampe Bang Bek) menitikkan air mata saat Bang AK menyatakan pamit. Saya sempat berpikir, betapa ironis, ketika dimarahi panjang lebar oleh Bang AK beberapa waktu sebelumnya, tidak setetespun air mata jatuh di pipi saya. Merasa gentar pun tidak! Tapi, begitu menyadari bahwa "guru besar" saya ini akan meninggalkan HJ, saya pun menangis tersedu. Saat itu saya sudah yakin, HJ kehilangan ruhnya.

However, saya masih ingat rangkulan beliau sambil berkata, "Ingat pesan saya. Kalian harus setia pada profesi, bukan setia pada perusahaan. Kalian bisa berganti-ganti media, tapi profesi tetap sebagai wartawan, makanya nilai-nilai profesi tetap harus dijunjung." Dan, hingga sekarang, meski saya sudah tidak lagi berkecimpung di dunia peliputan, prinsip itu tetap saya pegang. Di antaranya, jangan jadi jurnalis pelacur--melacurkan diri dengan menggadaikan kemurnian prinsip "wartawan yang tidak bisa dibeli".

Dan, ya, bener kata Bang Choki, ucapan "Jangan cengeng!" itu memang sakti banget! Ucapan itu yang membuat saya sejak awal tidak pernah menangis atau mengeluh setiap kali mentok dalam peliputan atau bahkan dalam menerima makian sekalipun (cukup nyengir aja). Didikan keras itu yang membuat saya juga jadi orang bermental baja sampai sekarang, bahkan mempengaruhi kehidupan pribadi. What didn't kill you made you stronger! Untuk itu, terimakasih Bos AK. You're the best! :D

Sekarang saya tetap mencoba menjadi jurnalis independen. Tidak dibayar, tidak punya media resmi. Saya menulis sekehendak hati, tanpa pesanan (hehe..) melalui blog-blog saya. Saya menyoroti hal-hal yang berbau sosial, kehidupan dan psikologi. Rasanya garis hidup menjadi jurnalis sudah mengaliri darah ini. Saya tidak pernah menyadarinya, Bang AK lah yang pertama menyadarkan bahwa saya ada potensi di sini.. So, thank you again, boss! hehe..

Saya sekarang ini berkecimpung di dunia pemberdayaan. Di garda depan, mengelola pemberitaan website. Bukan pemberitaan nasional secara umum, melainkan sebatas komunitas, meski komunitas kami ada di seluruh Indonesia. P2KP namanya, atau Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan, under Departemen PU dan loan dari World Bank, sejak 1999. Program P2KP diadaptasi oleh pemerintah menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, demi menyamai langkah internasional terkait MDGs (Millenium Development Goals).

Di website www.p2kp.org ini, saya menjadi redaktur dan editor, tanpa wartawan! Bos di tanah kosong. hahaha... Tulisan yang publikasi adalah kiriman dari para pelaku P2KP di seluruh Indonesia (mulai Banda Aceh sampai Sorong)

Gagas Buku dari Pak Tio

by Oitnarpus :)


Sobat sekalian,

Pada Jumat (10/10) pagi, saat hendak memarkir mobil di halaman Gedung Cyber, saya mendengar suara perempuan memanggil-manggil nama saya, "Pak tio.... pak tio... pak tio..."

Saya celingukan mencari arah suara. Ketika saya masih mencari-cari, ada seorang perempuan berjilbab melambai-lambaikan tangan. "Pak tio 'kan...? Saya Rina dari Harjak..." katanya.

Saya langsung ingat. "Maaf nggak ngenalin... Soalnya, kamu sekarang pakai jilbab."

Ternyata, Rina sekarang berkantor di Gedung Cyber. Jadi, ada beberapa eks orang Harjak yang "nongkrong" di Jalan Kuningan Barat.

Jumat siang, usai sholat Jumat, saya menyelesaikan pekerjaan di lantai 3. Biasanya, saya ada di lantai 4 bersama Lila dan Lulu. Tetapi siang itu, saya cari suasana lain. Lagi pula, sekarang ini, bukannya lagi jaman "work hard", tapi "work smart". Posisi boleh di mana saja, tetapi pekerjaan dan tanggung jawab selesai.

Ketika berada di lantai tiga, ada teman yang memberi kabar, "Pak.... ada yang cari di lantai 4. Sekarang orangnya lagi ngobrol sama Lila n Lulu..."

Saya langsung berpikir, ini pasti "komandan AK". Tetapi lantaran pekerjaan belum selesai, saya nggak sempat naik ke lantai 4.

Setelah pekerjaan beres, saya langsung ke lantai 4. Tapi, "komandan AK" sudah nggak ada. Saya cek di tempat parkir, Nissan Terrano-nya juga sudah "menghilang" . Sorry banget "komandan AK".

Soal buku, saya dukung 1.000 persen. Para sobat di Harjak sebaiknya tinggalkan jejak... dan jejak itu adalah.... "BUKU".

Salam dan sukses...
TIO

Menanti Reuni

by A. Kuhon




Teman-teman,

Minggu pertengahan Oktober 2008 ini sangat meletihkan. Banyak urusan yang harus saya tangani, membuat saya pontang-panting. Jumat 10/10 pagi mendadak saya dapat info Presiden SBY berkunjung ke Mesjid Raya Bintaro. Hal yang penting bagi tabloid Warta Bintaro, sehingga saya harus segera minta bantuan Makmun dan Saiful maupun teman-teman meliputnya.

Minggu pertengahan Oktober 2008 ini sangat menghibur. Kamis 9/10 saya dikunjungi Makmun, Saiful Kurniana dan Agus Karyawan. Jumat 10/10 pagi, saya rapat di tempat klien saya di Gedung Cyber. Dalam rapat itu, saya bertemu Rina Rahardjanti yang makin ayu. Senyum di bibirnya yang tipis dan kerling matanya, masih tetap aduhai seperti dulu. Seusai rapat, kami ramai-ramai makan siang. Tapi Rina tidak makan dan menyimpan Hoka-hoka Bento jatahnya.

Pulang dari rapat, saya singgah di tempat Heru Suprantio di lantai IV. Ternyata di sana ada dua mantan Harjak, Lila Intana yang sulit mengucapkan 'r' dan Cice Lulu Makmun yang bukan binti Makmun. Tio sendiri sedang tidak ada. Katanya, setelah menikah lagi, Tio sekarang jarang ada di kantor. Cuma bekerja lewat laptop saja. Saya sempat melihat foto-foto Tio (yang sudah sangat mirip Hatta Radjasa) dan istrinya. Tapi tentunya bukan konsumsi publik di milis ini. Tau kan maksud saya?

Lalu saya, Lila dan Cice sempat berceloteh sejenak. Saya ingat Cice sempat jatuh dari bus ketika meliput. Saya ingat juga Lila suka bawa mobil sedan merah (tapi parkir jauh-jauh dari kantor supaya dikira miskin). Lalu, Lila dan Lulu (jue hje he he) mengingatkan betapa saya pernah menyuruh reporter (yang pulang kantor tanpa beroleh data) mewawancarai mayat. "Wawancarai siapa aja supaya dapat datanya. Mayat kek," kata Cice Lulu sambil tertawa-tawa.

"Wah, waktu itu saya mau ketawa mendengar komentar tersebut. Tapi kan semua pada takut dan tidak ada yang berani ketawa," tutur Lila sambil ketawa berderai. Pokoknya, kita jadi ngakak-ngakak sejenak di sana. Foto-foto Lila dan Lulu sudah saya upload ke milis ini.

Saya jadi kangen dengan suasana di Harian Jakarta. Sekitar 3-5 bulan dari hidup saya, disisipkan di Harian Jakarta. Banyak hal yang tercatat di lembar kenangan masing-masing kita. Setidaknya, betapa konyol saya mendampingi teman-teman reporter. Ada yang melamar jadi sekretaris (seperti Nina), tapi saya sulap jadi reporter. Ada yang patah hati dari kampungnya, juga saya sulap jadi reporter. Ada yang sudah redaktur hebat di tempat lain, juga saya sulap jadi reporter. Ada yang masih calon koresponden (dari Bogor), yang awalnya ragu-ragu dan sempat hampir nangis, juga saya sulap jadi reporter.

Sekarang, sebagian dari teman-teman itu sudah jadi petarung di lapangan. Saya bangga melihat dan mendengar kisah sukses teman-teman semua. Saya berniat membuat buku tentang wartawan Indonesia dan peliputan. Mungkin suatu saat saya akan minta Anda masing-masing menulis pengalaman ketika kita bersama-sama di redaksi, guna saya kumpulkan jadi buku. Mau kan?

Juga, mari kita rancang reuni, yang ditanyakan oleh Lisa dan beberapa teman lain. Bukan cuma oleh teman-teman dari Harian Jakarta, tetapi juga oleh rekan-rekan dari Harian Jayakarta.

Kayaknya kita perlu sewa event organizer (kayak Agus Karyawan)! Hua ha haaaa.....

=============================
*foto dokumentasi Kopral Jabrik. Ki-ka: Lila, Bang AK, Cice.

Lizha yang Gelisah

by Lizha


Turun dari bis di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan. Seorang tukang ojek pun langsung menawarkan tumpangan, "Ke apartemen kusuma chandra ya mbak?" Sebagian tukang ojek memang sudah hafal dengan tujuan-tujuan penumpang yang kerap diantarnya.

Tancap gas... sampailah di depan hunian vertikal yang dimaksud, di kawasan SCBD. Dua lembar uang 1000-an diterima si abang tukang ojek. "Makasih ya mbak," katanya sebelum membelokkan motornya kembali ke tempat mangkal.

Melanjutkan langkah ke gedung berlantai dua yang sebenarnya lebih dikenal dengan nama Gedung AKPAR. Ya, karena sebenarnya sebagian tempat ini memang dipakai oleh sebuah lembaga pendidikan. Dan, jika menilik dari bentuk bangunannya, memang lebih cocok sih buat sekolahan.

Naik satu tangga, sampailah di lantai dua.... menuju ke salah satu ruangan yg memang mirip ruang kelas.... buka pintu.... dan, ....

Aduh, jadi kangen nih sama suasana seru di HARJAK... karena setiap sore, sepulang dari liputan, pasti ada aja kehebohan yg dibikin...

Boz AK dan temen2 laennya, kapan nih kita reuni???

Tri Umvirat Harjak

by A. Kuhon




Teman-teman,

Saya gembira sekali Kamis sore kedatangan tiga sobat lama. Mereka tidak janjian, tapi berdatangan secara berurutan. Bek Makmun datang duluan sejak siang, lalu disusul oleh Saiful Kurniana. Sorenya Agus Karyawan berkirim sms, menanyakan apakah saya Jumat ada di kantor.

Saya jawab bahwa di kantor sedang ada Makmun dan Saiful, dan saya minta agar Agus datang Kamis petang. Maka, berkumpullah kami berempat di ruang kerja saya. Ngobrol ngalor ngidul. Sementara mereka saat ini sedang mengudap nasi Padang, saya upload foto-foto para pendekar yang sempat bertahan sampai desah nafas terakhir Harian Jakarta.

Waktu saya akan memotret, ternyata kamera saya habis baterai. Terpaksa saya pakai kamera di HP. Celakanya, saya tidak pernah memanfaatkan fitur di HP saya. Karena, menurut saya HPO adalah alat komunikasi, bukan alat fotografi. Jadi, terbuanglah waktu sekitar setengah jam sekadar menyelidiki cara memotret pakai HP.

Hasilnya saya pajang di milis ini. Sekarang saya mau ikut nimbrung mengudap bersama mereka.

Salam,

=================
*foto dokumentasi Kopral Jabrik. Ki-ka: Makmun, Syaiful, dan Agus Karyawan

Terawang Iwan

by Iwan S. Jatmiko

wih ada si yuk juga toooh...pa kabar cing? Gimana ME?....hahahaha. ..asyik dong tiap hari liat yg telanjang2...

Btw, ada yg pegang no hp-nya saiful gak? sekitar 6 bln lalu dia tlp sy mo ngundang diskusi ttg pers bareng organisasi wartawan (lupa namanya). Hanya saja waktu dan tempat tidak memungkinkan, jadi sy gak bisa dtg.

Ada yg tau kabar si herwan? terakhir sy kontak dia (sekitar setahun lalu) doski masih di metro TV.

Btw lagi, kalo perusahaan tmn2 ada rencana mo bikin internal magazine jgn lupa kontak2 sy ya. kita ada tim-nya lengkap plus infrastrukturnya. Atau, kalau cuma mau sekedar cetak majalah, koran, newsletter, dll (print media), kita juga punya percetakannya termasuk mesin cetak, mesin lipat, mesin potong, bending, dll...

Selain urusan print media, kita biasa juga handle proyek2 spt fotografi & video documentary (biasanya kolaborasi sama EO)...Project terakhir yg abis digarap adl official fotografi utk Puteri Indonesia 2008 (associates with yul adriansyah), and IM3 Mobile Academy (foto & video documentary) ...

hehehe numpang jualan ya MOD. Maklum mantan makelar motor kreditan...hahahaha ...

Sukses ya prenzzz...


Salam ISJ
"Buruh tukang ketik biasa"

Pesan untuk Panti

by Bang Kuhon

Panti,

Apa kabarmu. Kebetulan aku sedang bersama-sama dengan Makmun dan Saiful Kurniana di kantorku. Kami bertiga sedang ngobrol-ngobrol tentang masa lalu, sambil merajut masa depan. Saiful & Makmun langsung ingat Yulius yang biasa meliput olahraga. Kapan kita kumpul-kumpul?

Ini tulisan Saiful Kurniana:
'salam sama keluarga ya ... minal aidin wal faidzin, sory ya bu telat aku minta maaf lahir dan batin.'


"Kukuruyuk" dari YUK

by YUK

(Salah satu penggagas tabloid TEMPE--"tabloid" single edition internal HarJak) :D

Syalom ..!!!

Hehehe.. Akhirnya ramai juga nih milis kita Om Jabrik. Apa kabar semuanya?

Sepertinya lama tidak mendengar kabar dari Philip Tempe, Jauhari Joe dan satu lagi, Afif Atamimi (mantan redaktur hiburan Minggu Harian Jakarta). Pak Kuhon apa kabar? Sebagai moderator milis, mungkin harus lebih aktif lagi pak menyambangi anggota2nya, biar pada rajin kirim kabar juga ke milis ini.

Bagaimana juga kbar dari Bang Darwin, Pak Darlis, Pak Hutapea, Bang Erwin, Frans Pong dan lainnya? Semoga semuanya baik2 saja. Saya masih sering ketemu di lapangan dengan teman kita seperti Coki (wartawan kriminal yang bertobat jadi wartawan olahraga, macam mana pula ini?), kemudian Agung (angkatan pertama HJ, sekarang membelot jadi EO di Jogja. Saya bertemu dia di Medan secara tidak sengaja di lobby sebuah hotel. Saya masih simpan no HPnya dia), kemudian betemu juga dengan Dadang (Fotografer yang sekarang bekerja di Rakyat Merdeka, JaPos Group. Mungkin Ana Suara Pembaruan lebih tahu sepak terjang si abang yang satu ini, Betul demikian Ana? Hehehe..)

Usul saya, Pak Moderator untuk melemparkan ide membuat reuni akbar HJ, ya hitung-hitung sudah lama juga kan kita tidak bertemu, bersua dan bertukar cerita. Saya masih ingat dengan teman seangkatan dulu, Cinthya (dulu ditarik ke Pilars, fluent speaker in English, yes she is! Dimana dan apakabar dia sekarang?) kemudian ada juga Riris (mantan anak Radio yang sekarang hilang entah kemana, meski cuma bersama-sama beberapa bulan, namun rasanya sudah seperti kawan lama).

Cewek2 HJ sepertinya lebih kompak bertemu dan menjalin cerita, intensitas pertemuan mereka memang sudah kelewat sering daripada kaum Adam HJ. Gimana pak moderator? Bikin reuni besar aja sekalian, atau kalau mau, kita kumpul semua di event nikahan saya dan Ria bulan Desember nanti di Jakarta. Semoga semua sehat2. Keep in touch.

Tabik!

Selembar Kabar dari Ria

by Febria Silaen
(dengan font comicsans berwarna ungu-nya) :)

Hai hai...
wah, met lebaran ya semua mohon maaf lahir batin. moga2 tahun ke depan ndak selalu ngebatin aja kerjanya...hehehe alias gerutu, wakakak nda nyambung ya? (hehehe)

o iya, btw, anyway, bang Coki sumpah banget cerita meeting point nya gokil abis, kok waktu ketemuan sesama perempuan cantik HJ, Uul n Ririn ndak cerita ya.....pdhl bahan yg bgs tuh buat ketawa...ups ga papa kan bang Coki

Yap, bener banget yg dibilangin kepala suku, pindah kerja bukan soal materi tapi kepuasaan mau belajar terus...hehehe kata tepatnya keluar dari zona aman untuk dpt ilmu biar otak terasah n tumpul...bukan anak harjak deh kalu takut ama tantangan... hehehe

ndak nyangka juga sih milis ini bakal makin seru...moga2 aja reuni akbar HJ bisa terlaksana, meski pun ide awal mau buka bersama or silahrurahmi ex HJ yg dibicarakan pas di Bandar Jakarta tdk terealisasi hehehe malah cewe2 mau jalan2 lagi...hayo sblm bulan desember nih....udah status beda...

Hayo anak Harjak, yg rame ya, Ciayo ya...
Tuhan Memberkati

Tangkal Badai di Dunia Media ala Choki

by Choki

Yup...yup. Kamis kemarin gw ditelepon Pak Kuhon. Saat itu saya tengah memelototin laptop, memantau perkembangan website olahraga yang saya kelola. Ada sedikit eror sih. Sementara teknisi ngutak-ngatik, saya - seperti menunggu bayi lahir saja - memantaunya dari laptop. Tegang.

Dan HP gw berdering: Pak Kuhon.

Kami bercakap-cakap, panjang lebar. Dia tanya kabar saya. Saya bilang, Puji Tuhan, baik. Saya juga bilang pada beliau, ihwal perjalanan karier saya setelah tak lagi di Harian Jakarta.

Terakhir saya bekerja di Majalah Sportweek, majalah sport in lifestyle. Majalah ini diterbitkan olah Trio Warna Gempita, yang juga menerbitkan Harian Topskor dan Majalah wanita Clara. Di sini, saya berpartner dengan Pak Jan Nabut, sahabat lama Pak kuhon tatkala masih sama-sama di Harian Jayakarta. Saya cuma bertahan tiga bulan.

Sebelumnya, bersama Arya Abhiseka (Eks Jakarta Post yang kini jadi presenter sepakbola nasional di ANTV Sport), kami menerbitkan Tabloid LIGA, tabloid yang khusus mengulas sepakbola nasional. Arya pemred, saya redpel. Media ini cuma bertahan setahun. Dari sini pula saya merambah jadi komentator di KBR 68 H dan ketemu dengan mantan wartawan Harian Jakarta yang juga adik kelas saya di IISIP, Philip Situmorang.

Sebelumnya lagi, saya di Harian Olahraga GOAL. Di sini saya sempat ketemu Yuk. Lantaran chaos di dalam, media ini cuma bertahan setahun, lalu gulung tikar. Padahal, boleh dibilang, koran ini sangat diminati pasar. (Oh ya, salah satu layouternya eks Harjak juga. Kalau nggak salah namanya Kiung atau Wong atau...lupa aku).

Saya sempat pula diminta Bang Apul Maharaja (Mantan Redpel Harjak), untuk membantu redaksi Barita Batak Pos yang dinakhodainya. Karena kebetulan ada urusan, saya minta waktu untuk berpikir. Bang Apul mahfum. Namun, takdir berkata lain. Saya urung merapat ke batak Pos.

Vakum dari ingar-bingar dunia jurnalis, saya menulis artikel di www.bolanova. com dan kemudian jadi penulis tamu di
www.duniasoccer. com. Dan, kalau tak ada aral melintang, medio Oktober nanti, saya juga diminta sesekali menulis di Jakarta Globe, harian berbahasa Inggris yang diterbitkan Group Lippo. Sandi Pamuji, sahabat saya di PSSI, jadi redaktur olahraga di sini. Dia dulu di LKBN Antara.

Berbekal pengalaman, dan juga doa tentu saja, dua minggu lalu website yang saya kelola, www.warungolahraga. com mulai online. Respon teman-teman di PSSI Pers dan KONI lumayan apik. (Kalau kebetulan kalian meng-klik situs ini dan belum ada wujud aslinya, maaf, ada kesalahan teknis. Kita doakan tak berlangsung lama. Maklum, semua serba terbatas dan ini merupakan tantangan baru bagi kami).

"Kantornya di mana?", kata Pak Kuhon. "Saya nggak punya kantor, Pak. Semua saya kendalikan dari laptop," kata saya lantang.

Jangan cengeng!

Kata-kata inilah yang saya pegang teguh dari dulu. Dia semacam suluh jiwa. Pembetot semangat. Jangan cengeng tak sekadar hardikan, tapi juga wejangan bahwa tak ada yang perlu ditakuti dalam hidup. Dengan kata lain, berbahagialah orang-orang pemberani karena merekalah yang dapat mengerti apa makna hidup. Artinya, orang penakut ke laut aje...

Jangan cengeng!

Ini adalah 'ATM' kita yang sesungguhnya dalam meresponi realitas.
Siapa bertelinga bailah dia mendengar.

For all, tetap semangat. Jaga kesehatan. Buang semua ketakutan. God bless us.

Salam olahraga

Harjak in Memory (2)

by Philip

Salam,

sekadar ninmbrung... seneng denger petuah om jabrik..he.. he..utang budi saya pada bos AK ini, karena waktu masuk ke Harjak, cuma modal info dari bang Choki trus nipu sekred waktu itu...siapa namanya.. pak..??1...waduh saya lupa namanya ...trus nerobos ruang bos AK yang ngaku-ngaku udah janjian..padahal. .suprit!. .ini tipuan belaka supaya dapet kerja..he..he. .sorry bos!

kalau saya kangen sama teman-teman lain, Agus Karyawan alias AKA....sekali- kali nongol, film-film sampean masih ai simpen....relain ya..ha..ha..

seneng saya...o ya..buat 'bang nas...salam juga

'selamet lebaran untuk semua...


salam hangat
philip

Media Baru Ria

by A. Kuhon

(sebagai tanggapan dari berita tentang Febria "ria" Silaen yang pindah ke Mother & Baby Magazine per 6 Oktober 2008)

Aloha,
Selamat yaaa, Febria. Saya selalu ikut gembira setiap mendengar kabar rekan lama beroleh tempat kerja baru yang lebih baik. Setiap ada peluang kerja, baik dari klien atau dari pihak lain, memang saya berusaha berkabar kepada teman-teman lama.

Saya pernah mengajak Rio Bembo, Coki, Samad, Rina, Agus dan beberapa rekan lain dalam situasi yang terpisah. Ada yang berupa proyek panjang, ada juga yang hanya singkat. Ada yang kemudian menjadi staf organik di suatu perusahaan atau lembaga, ada juga yang hanya seusia proyek saja.

Tentu ada kondisi yang mungkin menggembirakan atau memuaskan rekan yang saya ajak. Tetapi bukan mustahil ada pula yang kemudian mengeluh atau merengek-rengek. Ada juga yang kemudian menghilang begitu saja, tanpa kejelasan mengenai penyelesaian tugasnya. Namun setiap ada peluang, saya selalu mengutamakan teman-teman lama. Saya sungguh salut kepada para perempuan yang perkasa, yang bisa tegar dan tangguh menghadapi permasalahan hidup. Saya ingat Panti, yang tanpa banyak mengeluh selalu berusaha merampungkan halamannya. Juga Makmun, yang malang melintang dari satu wilayah ke wilayah lain, sampai akhirnya parkir di Sekretaris Redaksi.

Saya juga masih ingat U'ul, yang ngotot menulis laporan tentang underpass di dekat Kebun Raya setelah kunjungan pertamanya ke kota Bogor. Cice yang sempat jatuh dari angkutan umum karena menjalankan tugas liputan. Rina yang tumbang di redaksi. Nina yang melamar jadi sekretaris, tapi dalam waktu dua minggu saya sulap jadi wartawan bandel. Juga Iwan Suci Jatmiko, makelar sepeda motor yang bercita-cita jadi wartawan handal!

Salah satu modal utama kehidupan kita di dunia media adalah kesehatan dan stamina tubuh. Semua sangat ditopang oleh semangat. Tidak jarang kemudahan-kemudahan yang kita dapat selama menjadi wartawan, membuat semangat kita menjadi tipis. Akibatnya kita jadi cengeng, ribut mencari-cari pekerjaan atau lowongan ketika sedang menganggur. Lalu, bingung mencari gaji yang cukup pada bidang kerja yang disukai. Setelah beroleh peluang kerja dan kemungkinan mendapat gaji yang memadai, muncul keluhan lain mengenai jauhnya tempat kerja dari tempat tinggal. Setelah masalah jarak terkompensasikan, muncul keluhan lain tentang tidak adanya pembantu yang menjaga rumah.

Orang bijak, selalu melihat peluang dalam setiap hambatan. Sebaliknya, orang bodoh selalu melihat hambatan dalam setiap kesempatan. Dan orang yang celaka, selalu mengeluh ketika sedang diberi karuniaNya. Semangat, memungkinkan kita tetap memiliki daya juang sehingga terhindar dari kecengengan.

Milis ini tambah ramai setelah Coki bermain bola dan menendangi kata-kata di meeting point Plasa Semanggi. Kita belum membaca cerita teman-teman yang lebih lama, generasi Harian Jayakarta, yang sebagian juga menjadi warga di milis ini. Generasi tahun 1989 (Jayakarta) antara lain Harry Ponto, Primus Dorimulu, Mulia Siregar, Timbo Siahaan, Yashinto Sembiring, Shanty Sibarani, Norman Meoko dan lain-lain.

Generasi tahun 2004 (Jakarta) antara lain Nina, Lila, Coki, Cice, Phillip, Tetapi, cerita-cerita yang dipajang di milis ini benar-benar memperkuat tali persaudaraan. Saya sungguh tidak mengira, pertemuan sebentar di Harian Ja(ya)karta, menimbulkan ikatan kekerabatan yang sedemikian akrab.

Jaga semangat, selamat Idul Fitri, maaf lahir bathin!

Jangan cengeng!

Rina di Mana?

by Choki

Dia, kalau bicara, sesekali memegang batang kaca matanya. Dia berjalan lincah, setamsil peragawati di atas catwalk. Perempuan ini, dalam tempo-tempo tertentu, tak ketulungan bawelnya.

Yang kuingat saat itu: Kami ngobrol di kursi dekat pintu gedung berwarna kuning telur itu. Dia becerita tentang dia punya tentang. Aku hanya mendengar, sesekali menimpali lalu menyulut asap kretek.

Malam merafak tinggi. Dia pulang, menuruni anak-anak tangga itu satu persatu...Aku menatapnya dari belakang.

Lalu, waktu berlalu, merangsek ke depan. Satu persatu pergi, mengikuti kata hati. Tentang Rina,yesterday just a memory...

Where are u saiki, Ndok?

Sejarah Meeting Point (2)

Versi-nya Bang Choki. hehehe..

Kalau ingat 'meeting point' itu, gw suka nyengir sendiri. Gw juga sering nyeritain itu sama teman-teman. Mereka juga pada ngakak. Kwak...kwak. ..kwak...

Ceritanya begini:

Beberapa waktu lalu, Uul - perempuan yg suka memainkan bola matanya itu - sms gw. Pesannya, alumni Harjak mau ngumpul di Plaza Semangi. Meeting poinnya di depan Bread Talk (tulisannya benar seperti ini ga, ya? Gw sih sering nemani bokin ke sini tapi suka lupa ejaannya. Kwak...kwak. ..kwak)Dari PSSI, gw langsung meluncur ke Plangi.

Sampai di depan Bread Talk, gw bingung. Di depannya ada restoran tapi namanya bukan Meeting Point (gw lupa namanya apa). Gw pikir Uul salah kali. Tapi sudahlah. Gw juga berpikir, jangan-jangan anak-anak sudah di dalam. Sebelum masuk, gw intip dari kaca. Sial! Kacanya tebal dan hitam banget! Gw ngintip terus nyari wajah Uul, Nina, Ririn, Yuk, dll

Leher gw sampai pegal, sebelum akhirnya seorang satpam datang. "Bisa saya bantu, Pak?", katanya. "Terima kasih, Mas. Saya mau nanya, meeting point itu di mana ya?," kataku. Mas satpam sejenak bingung lalu berkata,"Sebentar ya, Pak. Saya tanya teman dulu. Kebetulan dia sudah lama di sini". Dia lalu ngebreak temannya pakai HT.

Karena jarak kami hanya setengah meter, kuping gw dapat menangkap dengan jelas pembicaraan mereka. Teman si satpam bilang begini, "Meeting point? Saya sudah lama bertugas di Plangi tapi belum pernah dengar ada restoran atau kafe yang namanya meeting point.

Gw ngeper juga sambil ngedumel: si Uul ada-ada saja. Kalau mau ngerjain jangan begini dong caranya. Mana nama tempat pertemuannya ga jelas lagi!

Lagi bengong begitu, Mas Satpam berkata,"Maaf, Pak. Teman saya juga nggak tahu. Mungkin bukan di Plangi kali". "Nggak mungkin, Mas. Kalau nggak percaya, baca sendiri saja sms-nya," kataku sembari menunjukkan sms Uul.

Gw lalu pergi. Bingung mau menuju ke mana. Gw sms Uul. "Ul, meeting point itu di mana seh? Gw dah di plangi neh". "Sori, Bang. Meeting pointya di lantai tiga. Gw sama Ririn sudah di sini (Uul nyebutin nama restorannya. Cuma gw lupa namanya. Kwak...kwak. ..kwak... ).

Dalam hati gw ngedumel lagi: Tuh satpam pada goblok-goblok banget sih. Katanya restoran atau kafe meeting point kagak ada. Nggak tahunya ada di lantai tiga. Dasar goblok....

Sampai di lantai tiga, gw ketemu juga sama bidadari-bidadari Harjak. Habis makan, gw ceritain deh soal satpam goblok tadi. Uul, Nina, Ririn, pada bengong. "Bang, meeting point itu bukan nama restoran atau kafe, tapi tempat pertemuan", kata Uul. Dia ngakak. Begitu juga dengan Ririn dan Nina. "Gw pikir nama restoran, Ul. Pantas satpamnya bingung, ya. Kami sama-sama goblok, dong". Kami semua ngakak. Kwak...kwak. ..kwak...

Gw pamit duluan. Mau main bola sama teman-teman Siwo. Pas di lantai dasar, gw ketemu lagi sama si Mas Satpam. "Meeting poinnya sudah ketemu, Pak?", ujarnya. "Mmm...sudah, Mas. Di lantai tiga, ternyata. Terima kasih, ya", balasku. Dalam hati gw bilang begini: Alah...Mas...mas, kita sama ora ngerti opo iku meeting point.

(Btw, dari dulu gw memang malas belajar bahasa inggris. Benar-benar malas! Gw kena batunya sekarang...)

Harjak in Memory (1)

by Bukti "Choki" Sihotang

Menatap foto dan membaca tulisan kalian, aku terbawa ke romantisme masa lalu: sebuah ruang bercat kuning telur serta segepok cerita

Jauh di mata dekat di hati

Ketika aku menulis kata-kata ini, waktu telah beranjak tua: Pukul 1.52. Mungkin kalian sudah tertidur, mungkin juga tidak

Selamat bersapa ria di dunia tanpa koma. God Bless us


==============================
catatan: Tulisan Bang Choki bisa dibaca dengan cara search (googling). Link di bawah ini adalah beberapa tulisan dari sekian ratus (bahkan ribu!) tulisan yang beliau buat. Salut utk Bang Choki! ;)

1.
Tatkala Kata Kehilangan Makna
2.
Surat Untuk Nurdin Halid
3.
Pesan Singkat untuk Tuan-tuan di PSSI
4. Sun Tzu dan Sepakbola


How are ex-HarJakers? (part 1)

by: Albert Kuhon

Teman-teman,

Kamis 25/9 malam saya mendapat kehormatan dikunjungi Rahim Nasution. Masih ingat kan? Rahim reporter di Polda, pernah bertugas juga di jakarta Timur. Dia diomelin gara-gara menulis laporan tentang penjualan fasos dan fasum di Pasar Mester. Lain kali fotonya saya pajang deh.

Rahim sempat saya ajak melihat foto-foto yang dibuat U'ul, yang dipajang di milis ini. Satu-satu dia ingat kembali namanya, Ada Lila, Cice, Febria, Elizabeth, Elva, Ririen, Yulius, Nina, Anna dan lain-lain. Dia bercerita tentang Said, yang sekarang sudah redaktur di Sindo. Rio Bembo yang tampangnya mirip John Doe, sekarang menangani media komunitas di Kelapa Gading. Juga tentang Taufik yang sekarang jadi Korlip di Harian Pos Metro, U'up di Tabloid Hidayah. Johari di Investor Daily, Ferry Ardiyanto di koran Tabloid Hallo Jakarta. Sayangnya Rahim tidak punya alamat email mereka. Panti kabarnya sekarang sedang memulai karir lagi sebagai redaktur di Harian Merdeka yang segera bakal terbit. Waktu saya nulis email ini, menjelang pukul 00.30, Rahim masih ngobrol di kantor saya di jalan RC Veteran, Jaksel.

Kamis siang, saya sempat ngobrol per telepon dengan Coki Sihotang, si bandel keponakan sobat saya Tumbur Sihotang. Dia ngomel-ngomel karena tidak diajak menjadi warga di milis ini. Sekarang dia sudah saya undang jadi warga, mudah-mudahan kiriman ini dibacanya.

Saya juga sangat senang sempat berjumpa lagi dengan Makmun, yang kini sering singgah di kantor saya. Samad yang sempat sering nongol, belakangan ini sibuk menghilangkan jejak. Beberapa waktu lalu ada lowongan di salah satu klien saya, dan saya tawarkan kepada Samad bersama Rina. Entah bagaimana kelanjutan mengenai lowongan tersebut. Mudah-mudahan Rina dan Samad menyukainya.

[Canda] Kawanua Air

Candaan yang satu ini dikirimkan oleh Bang Albert Kuhon. Saya cantumkan sekaligus mengawali semangat The Meeting Point.. ;)

============================================

Pulang kampung naik pesawat capung. Awak pesawatnya semua Kawanua. Maka, muncullah pengumuman yang bikin bingung penumpang awam:

Ledis en jentelmen,

Kalu ngoni rasa so pidis tu mata, atau rasa bapongoh itu talinga, isap jo itu gula-gula yang tadi torang kase! Baku iko deng peraturan penerbangan, sekarang kita musti kasi lia pangoni samua cara pake itu tali mamudung yang ada pa ngoni pe pinggang, deng itu baju voor batobo, en masker oksigen kalu nanti ngoni pe napas mulai hosa.

Supaya ngoni samua bole salamat, coba lia kua kamari bagemana cara pasang itu sabuk yang balingkar di ngoni pe pinggang, cara kunci supaya nyanda talapas, bekeng kencang dang, en bagaimana kalo ngoni mo buka nanti.

Itu baju batobo di bawah kursi ngoni dudu akang, jangan dulu ngoni pake kecuali nanti waktu Om Kapiteng so undang batobo pa torang rame-rame. En inga jo…, itu barang jangan ngoni kase pindah neh, apalagi dibawa pulang vor pajangan salon atau
dekorasi souvenir ruang tamu tanda jij so pernah terbang. Kalu ikke riki, ikke nanti tampar kiri kanang, muka belakang, deng atas bawah, mangarti?

De pe cara pake, kase lingkar itu baju di ngoni pe leher, awas dang jangan talalu kencang komang, nanti jij susa banapas, boleh flau, kong bekeng tasibu pa torang musti bekeng pernapasan tiup ngoni pe mulu, idiiih, jadi ati-ati jo, neh!

Supaya boleh timbul di air, hela itu knop warna merah jambu yakis, atau bole juga tiup de pe pipa. Kong inga musti tunggu sampe tu badan so kaluar samua dari jandela darurat, baru boleh bekeng dia tabuka. Kalu nyanda ngoni nanti ta prop di itu jandela atau pintu, bekeng pusing pa torang, kong boleh sampe kriting tong pe tangan nanti mo bahela pa ngoni macet di pintu, komang. Oh yaa, amper lupa itu floit boleh ngoni pake baramaeng prit-pritan supaya jangan fastiu kalu so batobo di air.

Eh, asal ngoni samua tau ya, ini pesawat ada dua de pe pintu darurat di muka, ada dua yaqng laeng di belakang, deng ada dua lagi jendela darurat di tengah-tengah. Jadi waktu kaluar nanti nyanda perlu baku rebe rupa burung camar baku rampas roti di pante waktu ada bapiknik, musti holopis rupa bebe atau bifi babaris bagitu, alias antre satu lein.

Kalu nanti tiba-tiba napas hosa bukang lantaran itu rim di pinggang talalu kancang, atau lantaran salah pasang itu baju batobo, masker oksigen akan cirri dari atas kepala ngoni, no hela jo padia kong pasang diidong en banapas rupa biasa.

Kalu ngoni ada bawa anak kacili, jij yang so lebe tuwer tolong kase pake pa anak dulu baru pake sandiri, oops so salah, tabubale komaling, musti jij dulu pasang baru kase pasang pa itu kodomo zeg!

Kartu gambar petunjuk vor keselamatan ada di popoji kursi di muka di mana jij ada duduk, jangan ambe birman punya, jang ngoni baku cakar komang, deng baca bae-bae kong hafal mati pa dia.

Noh, bagitu jo dulu, Broer deng Zus!

Pakatuan pakaliweren kita nuwaya!

:D

Sejarah Meeting Point

Sejujurnya, yang "menggoda" saya untuk membuat blog ini adalah Bang Choki, yang sudah memposting tulisan-tulisan indah di milis.

Beliau kini malang melintang di arena pemberitaan olahraga. Semasa kami masih bersama di Harian Jakarta (Harjak), Bang Choki adalah rekan tandem saya di desk Jakarta Selatan dan Nasional. Prestasi beliau di lapangan diacungi jempol oleh banyak rekan wartawan dari media lainnya.

Misalnya saja, Mas Cel dari Warta Kota, memuji kerja Bang Choki yang sigap dan tidak segan segera meluncur ke TKP setiap kali ada taruna (berita). Kemudian, Pak Yon dari Poskota, memuji Bang Choki karena selalu bersedia membantu menambah informasi dalam setiap peliputan. Bagi kami sendiri, kru Harjak, Bang Choki adalah sosok yang begitu disayang di hati. Orangnya kalem tapi ceria dan pantang mengeluh meski gaji terlambat turun.. :D

Dan, alasan saya menggunakan nama The Meeting Point juga karena Bang Choki. Suatu ketika, kami mencoba untuk temu kangen dengan teman mantan Harjak. Yang diundang banyak, tapi hanya berempat yang berhasil berkumpul: saya (dan suami--menemani), Uul, Ririen dan Bang Choki. Waktu itu beliau hendak menuju Senayan untuk peliputan, tapi bersedia berbelok dulu ke Plasa Semanggi (Plangi) untuk bertemu kami.

Kami katakan kepada Bang Choki, "Bang, meeting point-nya di Bread Talk, ya.."

Rupanya, Bang Choki hanya mendengar "meeting point" saja dan meluputkan "Bread Talk"nya. Jadilah, Bang Choki sibuk mencari tempat yang berlabel "Meeting Point", sampai-sampai membuat Satpam setempat bingung. Jelas saja nama toko atau restoran dengan nama itu tidak ada di Plangi! Hahaha..

Untunglah, Bang Choki akhirnya menemukan kami. Beliau bercerita kebingungannya mencari "meeting point", membuat kami terbahak-bahak..

Saya katakan padanya, jika saya punya uang banyak, saya akan buat restoran yang dinamakan Meeting Point, agar Bang Choki tidak bingung lagi. Nah Bang Choki, karena uang saya belum banyak, baru bisa bikin blog dengan nama The Meeting Point dulu saja ya!

This blog is for you, bro! And for all my brothers and sisters ex Harjak. Dan tentunya, untuk mantan Pemred kami tercinta, Albert Kuhon. You rocks!! :D

Welcome to The Meeting Point

Selamat datang di The Meeting Point..

Blog ini akan berisi cerita di balik sebuah media yang pernah meramaikan belantara pers Indonesia, khususnya di Jakarta.

Ya, ini adalah kisah kasih para jurnalis yang pernah menorehkan prestasinya di Harian Jakarta (d/h Jayakarta), yang sayangnya gulung tikar pada medio Agustus 2005. Meski begitu, kenangan indah selama berjuang jungkir-balik di Harian Jakarta, terus melekat di benak kami. Dan semua terlontar secara jujur melalui mailing list kami [HARJAK at yahoogroups. com].

Demikian indahnya cerita yang diungkap para pujangga kuli tinta di milis tersebut, menggugah saya untuk berbagi kepada dunia melalui blog kecil ini. Selamat membaca..

Welcome to The Meeting Point

Selamat datang di The Meeting Point..

Blog ini akan berisi cerita di balik sebuah media yang pernah meramaikan belantara pers Indonesia, khususnya di Jakarta.

Ya, ini adalah kisah kasih para jurnalis yang pernah menorehkan prestasinya di Harian Jakarta (d/h Jayakarta), yang sayangnya gulung tikar pada medio Agustus 2005. Meski begitu, kenangan indah selama berjuang jungkir-balik di Harian Jakarta, terus melekat di benak kami. Dan semua terlontar secara jujur melalui mailing list kami [HARJAK at yahoogroups. com].

Demikian indahnya cerita yang diungkap para pujangga kuli tinta di milis tersebut, menggugah saya untuk berbagi kepada dunia melalui blog kecil ini. Selamat membaca..

Search This Blog