The Meeting Point

Stories Behind the Making of Newspaper

Kangennya Nina

by Nina


Bicara kangen, siapa sih yang nggak kangen dengan masa-masa di HarJak. Sebenernya, kalau aja ada orang "gila" yang mengatakan, "Hayo, Anda terbitkan lagi Harian Jakarta (bukan KORAN Jakarta), saya sediakan uangnya, unlimited!" Lalu orang tersebut meminta Bos AK memimpin kembali dan jika saya ditawarkan untuk gabung, saya pasti akan gabung kembali!! :D

Sungguh, kangen banget masa-masa menjadi reporter. Saya ngerasa, belum tuntas Bang AK mendidik saya sebagai wartawan badung. hehehe.. Mungkin saya satu-satunya wartawati bimbingan Bang AK yang berbalik menantang beliau, setelah setengah jam dimaki-maki karena membuat berita jelek (sampe-sampe Bang Bek pucat pasi begitu saya keluar ruangan) hahaha..

Mungkin Bang AK ingat, setelah memarahi dan menceramahi, saya malah balik menantang, "Kalau saya salah, tolong ajari saya gimana caranya supaya benar. Karena, saya nggak mau salah terus, Bang.." Dan waktu itu, saya ingat banget Bang AK menyangsikan ucapan saya, "Ah paling-paling kamu cuman ngomong begitu doang di depan saya. Di belakang saya nanti kamu ngomongin beda." Saya meyakinkan beliau, meski saya badung, saya bukan jenis orang yang khianat. Dan, jika saya minta beliau mengajari saya, artinya saya memang benar-benar ingin diajari, karena saya nggak mau terus2an bikin laporan yang salah. Saya ingin "jadi", tidak ingin abal-abalan.

Sayang, hanya 2x pelajaran tambahan saja yang sempat diberikan Bang AK, sebelum akhirnya beliau mengundurkan diri dari HarJak. Dan, saya juga masih ingat ketika kami (saya, Ririen, Uul, sampe Bang Bek) menitikkan air mata saat Bang AK menyatakan pamit. Saya sempat berpikir, betapa ironis, ketika dimarahi panjang lebar oleh Bang AK beberapa waktu sebelumnya, tidak setetespun air mata jatuh di pipi saya. Merasa gentar pun tidak! Tapi, begitu menyadari bahwa "guru besar" saya ini akan meninggalkan HJ, saya pun menangis tersedu. Saat itu saya sudah yakin, HJ kehilangan ruhnya.

However, saya masih ingat rangkulan beliau sambil berkata, "Ingat pesan saya. Kalian harus setia pada profesi, bukan setia pada perusahaan. Kalian bisa berganti-ganti media, tapi profesi tetap sebagai wartawan, makanya nilai-nilai profesi tetap harus dijunjung." Dan, hingga sekarang, meski saya sudah tidak lagi berkecimpung di dunia peliputan, prinsip itu tetap saya pegang. Di antaranya, jangan jadi jurnalis pelacur--melacurkan diri dengan menggadaikan kemurnian prinsip "wartawan yang tidak bisa dibeli".

Dan, ya, bener kata Bang Choki, ucapan "Jangan cengeng!" itu memang sakti banget! Ucapan itu yang membuat saya sejak awal tidak pernah menangis atau mengeluh setiap kali mentok dalam peliputan atau bahkan dalam menerima makian sekalipun (cukup nyengir aja). Didikan keras itu yang membuat saya juga jadi orang bermental baja sampai sekarang, bahkan mempengaruhi kehidupan pribadi. What didn't kill you made you stronger! Untuk itu, terimakasih Bos AK. You're the best! :D

Sekarang saya tetap mencoba menjadi jurnalis independen. Tidak dibayar, tidak punya media resmi. Saya menulis sekehendak hati, tanpa pesanan (hehe..) melalui blog-blog saya. Saya menyoroti hal-hal yang berbau sosial, kehidupan dan psikologi. Rasanya garis hidup menjadi jurnalis sudah mengaliri darah ini. Saya tidak pernah menyadarinya, Bang AK lah yang pertama menyadarkan bahwa saya ada potensi di sini.. So, thank you again, boss! hehe..

Saya sekarang ini berkecimpung di dunia pemberdayaan. Di garda depan, mengelola pemberitaan website. Bukan pemberitaan nasional secara umum, melainkan sebatas komunitas, meski komunitas kami ada di seluruh Indonesia. P2KP namanya, atau Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan, under Departemen PU dan loan dari World Bank, sejak 1999. Program P2KP diadaptasi oleh pemerintah menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, demi menyamai langkah internasional terkait MDGs (Millenium Development Goals).

Di website www.p2kp.org ini, saya menjadi redaktur dan editor, tanpa wartawan! Bos di tanah kosong. hahaha... Tulisan yang publikasi adalah kiriman dari para pelaku P2KP di seluruh Indonesia (mulai Banda Aceh sampai Sorong)

0 comments:

Welcome to The Meeting Point

Selamat datang di The Meeting Point..

Blog ini akan berisi cerita di balik sebuah media yang pernah meramaikan belantara pers Indonesia, khususnya di Jakarta.

Ya, ini adalah kisah kasih para jurnalis yang pernah menorehkan prestasinya di Harian Jakarta (d/h Jayakarta), yang sayangnya gulung tikar pada medio Agustus 2005. Meski begitu, kenangan indah selama berjuang jungkir-balik di Harian Jakarta, terus melekat di benak kami. Dan semua terlontar secara jujur melalui mailing list kami [HARJAK at yahoogroups. com].

Demikian indahnya cerita yang diungkap para pujangga kuli tinta di milis tersebut, menggugah saya untuk berbagi kepada dunia melalui blog kecil ini. Selamat membaca..

Search This Blog