Akademi Pariwisata JIH, lantai III
Medio tahun 2005,
Suasana rapat redaksi sore itu tidak menggairahkan lagi bagi saya. Buram, tidak ada kepastian dan sama seperti kebanyakan rapat di hari sebelumnya, tanpa visi. Di ujung meja, Pak Bob tampak menghisap dalam-dalam rokoknya. Sambil mengusap perut buncitnya, beliau memberikan arahan-arahan kepada redaktur untuk hal-hal apa saja yang akan kita sajikan esok pada pembaca.
Suasana bertambah lesu ketika Philip Situmorang menyatakan pengunduran dirinya dari jajaran redaksi. Kami sebagai rekan senasib sepenanggungan, yang menunggu godot atas terbit tidaknya Koran Jakarta esok hari, hanya bisa memandang lirih. Tempe, demikian kami panggil Philip, juga cuma bisa tertunduk lesu. Apa lacur, periuk nasi dan kepulan asap dapur memaksanya untuk banting stir dan kembali ke dunia yang sudah membesarkan namanya, dunia radio!
Sore itu, sebelum rapat, saya bertemu Pak Tio di pos satpam. Dengan tas besar di punggungnya, Pak Tio menolak naik ke lantai III dan memilih bertemu saya di pos satpam pinggir jalan. Saya utarakan niat saya untuk mencoba nasib ke harian olahraga GOAL. Beliau memberikan wejangan dan petunjuk serta berjanji membantu karena ada seorang kawannya yang bertugas sebagai redaktur di sana. Di kemudian hari, saya berterima kasih pada Pak Tio atas pertemuan sore itu. Berkat dorongan dan sharing pengalamannya maka saya tidak lagi canggung untuk berkecimpung di desk Olahraga.
Kembali ke rapat. Saya utarakan juga pengunduran diri saya kepada teman-teman lainnya. Pak Bob, Mba Panti, Pak Asep tampak terkejut. Apa mau dikata, bersama saya ikut juga hijrah Pak Repianto (lay out dan design grafis Harian Jakarta) ke GOAL. Berat dan sedih rasanya melangkah dari halaman gedung yang telah menempa saya dengan banyak pengalaman selama tahun-tahun awal saya sebagai jurnalis. Segumpal rasa bangga juga memenuhi dada saya karena bisa bertemu dengan orang-orang hebat di luasnya belantara media Indonesia. Hampir menangis haru rasanya saat membenahi barang-barang di meja saya, suasana kantor semakin sepi, bangku-bangku yang dulu ramai terisi kini sudah melompong anpa penghuni. Komputer-komputer mati seakan menjadi teman kami beebrapa bulan terakhir sebelum Koran Jakarta benar-benar dinyatakan kolaps!
Masih ingat orientasi pertama bersama Albert Kuhon, Barry Sihotang dan Neta S. Pane soal dasar-dasar jurnalistik. "KISS! Keep It Short and Simple! Itu azas pemberitaan yang harus diingat!" kata Albert Kuhon di kelas Minggu siang. Beberapa wajah yang baru kenal, Lila Intana, Ulisari Eslita, Cice Lulu, Herwanto, dll termasuk saya hanya bisa menyaksikan terpana penjelasan beliau. Ya, sebagian dari kami memang baru saja lulus dari bangku kuliah, sebagian sudah bekerja sebagai jurnalis, sebagian lain dari profesi berbeda. Tapi tekad kuat membara di hati kami untuk segera melakukan peliputan, mengejar narasumber dan menembus ketatnya birokrasi para petinggi publik Jakarta.
Kini, semua tinggal kenangan. Kami memulai hidup baru di belantara media dengan bekal yang kami dapat di Harian Jakarta -- Koran Jakarta. Tidak pernah pudar masa indah dan kenangan mendalam tentang makian David Tjiu dan Timbo Siahaan pada kami, melihat keluguan Upa Labuhari bersama PIlars, dan serentet kisah hidup anak manusia yang dirangkum Sang Nasib di lantai III. Saya, Yulius Kristanto, bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa karena boleh mengenal kalian semua, senior, teman sejawat, kerabat dan pekerja keras yang dititipkan Tuhan untuk menemani hari-hari saya di sana.
Di suatu malam, saya dan tunangan, Febria Silaen (mantan reporter desk LENGGANG) mampir sekedar ingin mengulang nostalgia kami akan Gedung Akademi PAriwisata lantai III. Malam itu kami hanya makan nasi goreng, tapi hati ini seperti tersayat saat melihat gedung yang dulu menjadi kantor kita. Rasa kangen, rindu dan banyak perasaan lain bercampur aduk. Apa kabar rekan-rekan sekalian? Orang yang pernah mengisi lembaran hidup kami dengan suka dan duka, tawa dan airmata?
Semoga Tuhan memberkati kalian selalu, dimana saja kalian berada, apapun yang kalian lakukan dibuatNya berhasil.
PS : Kumpul ya pas nikahan kami (Yuk dan Ria) tanggal 6 Desember 2008 di Gedung Dinas Pengembangan Daerah Depdagri Kalibata jam 19.00 WIB, undangan menyusul masih dicetak... (heheheh..)

0 comments:
Post a Comment