The Meeting Point

Stories Behind the Making of Newspaper

Resepsi Ria dan YUK

By Nina

Bagaimana kalau temen se-HarJak ngumpul? Yang pasti, rameeeee! Saking rame-nya, sampai nggak bisa terekam di foto-foto.

Malam itu, di resepsi Ria dan YUK, kami ngumpul.. Uul, Elva, Cice, Lila, Anna (dan cowoknya), Lizha, Nina (dan suami), Mbak Panti (beserta suami dan kids), Iwan (dan anak-istri), Herwan (dan yayangnya), lalu belakangan yang datang: Bang AK. Memang tidak seluruhnya ngumpul.

Walau kami cukup ngerasa "kehilangan" tanpa kehadiran Ririen yang sedang menunggui ayahnya di rumah sakit (semoga cepet sembuh ya, bokapmu, Rien), tanpa Bang Choki, Said, Pak Tio, Pak Makmun, Philipus "corpus tempus", Agus Karyawan, Syaiful---pada ke mana siiih??---suasana pertemuan tetap meriah! Apalagi pake makan-makan (namanya juga resepsi kawinan!) hehehe.. boleh aja hunting makan ke sana-sini, tapi ujungnya balik lagi ke "meeting point" di tengah-tengah ruangan.. :D

Malam itu, Yuk tampak bahagia dengan jas rapinya. Ria tampak begitu anggun dan cantik dengan kebaya merah marunnya. Kita sendiri yang hadir, mayoritas mengenakan baju hijau. Wah...padahal ngga janjian.. Apa karena terpengaruh gerakan "Go Green"?? :) Entahlah, yang jelas, wajah semua orang yang hadir di sana tampak sumringah..

Sayang, kehebohan itu harus terpangkas karena Anna harus berangkat meliput. Anna, please deh! Malem minggu, ngeliput jugaaa? Bang AK sampai geleng-geleng dibuatnya. Sudah sempat terlontar "hasutan" agar Anna tidak usah meliput, "Hare gene, teknologi ada, kenapa gak nongkrongin Antara aja? Jangan dikloning, tapi diolah.." Hahaha.. Tapi, Anna tetap tegar dan tegas menjawab, "Maaf, jam 8 aku liputan.." Salut, Anna!

Anyways, ini sejumlah foto yang sempat "merekam" kelakuan teman-teman eks HarJakers (thanks to Ila, for the pictures). Sayang, foto waktu rebutan lemparan bunga, gak ada ya? Hahaha.. kalau ada, pasti lucu.. :D

H minus 2, Sebelum Bergerilya

by YUK



Latest Diary of Me :

Tinggal dua hari lagi status saya sebagai Lajang. Sebagai Bujangan. Setelah itu, saya membuka lembaran baru dari hidup yang Gusti Allah titipkan ini dengan status Suami dari Febria Barita Silaen. Saya akhirnya punya Mertua. Saya akhirnya punya Istri. Lebih penting lagi, mengutip kata Om Kuhon, saya punya selembar Surat Nikah... Buat yang sudah menikah, tentu bukan barang baru dengan status ini. Tiap hari ketemu pasangan, arep turu, tangi turu, bar adhus, mangan, ngombe, masak ning pawon sampe kenthu bareng sama pasangan. Buat saya, ini baru, pengalaman yang rasanya menantang untuk dicoba, dicicipi dan dinikmati. Ga tau kalau rasanya nanti kayak apa. Saya dan calon istri sih sudah sepakat, telen saja, kalaupun rasanya nanti tidak seenak bayangan kita.

Temans, kami mohon doa restu. Ini hanya sebuah lembaran baru yang akan kami lewati bersama. Ini pastinya jadi pengalaman yang tidak bisa dihapus dengan apapun juga. Tapi kami memang butuh dukungan doa kalian dan juga segunung keberanian untuk melangkah. Tanpa teman, sahabat, dan keluarga dekat, rasanya hal itu sulit dilakukan. Kami siap melangkah ke sana. Pernikahan. Keluarga. Dan pada akhirnya kembali ke Sang Khalik dengan cerita agung dan gembira soal anak cucu yang dititipkan Nya. Sebuah cerita yang kami harap berakhir manis, tidak terlalu manis namun juga tidak hambar. Mak nyuss..!!!
(I Korintus 13:13)

======================
Tanggapan Bang AK:
Yuk,
Ada satu tambahan yang perlu dicamkan sejak sekarang. Perkawinan bukan langkah buat menyelesaikan suatu masalah, melainkan awal dari banyak masalah baru!
Kapan arep dibatake? Kan kudu dikasih marga, pake upacara dulu. Dititipkan pada marga lain, lalu lamaran coro mbatak baru boleh nggandeng Ria. Emangnya gampang orang Jawa ngawinin orang batak?

Salam mBelgedes!

======================
Jawaban Yulius:

Om Kuhon,
Terimakasih buat wejangan singkatnya.. Seperti yang sudah kami katakan sebelumnya, pernikahan saya dan Ria memang dilakukan dengan cara-cara nasionalis, tidak komunis apalagi atheis, dan sangat tidak ekonomis! Sayang memang kami tidak ada acara kerek bendera dan mengheningkan cipto untuk mengafdolkan rasa nasionalis di sana. Kami beruntung diterima di kedua belah pihak keluarga besar tanpa banyak persoalan berarti, semua bisa diseleseken dengan seksama. Ternyata bukan lagi seperti jaman Om Jabrik dulu yang kalau nikah lintas propinsi kudu siapkan banyak hal, material sampe prentilan-prentilan lainnya. Jaman sekarang sudah maju Om, kemajuan pula yang membuat pernikahan lintas propinsi seperti saya menjadi hal yang tidak perlu diperumit, dipersempit, dipersulit seperti angin keluar dari lubang silit... hehehehe... Jadi tidak masalah kalau pria jawa mengawini gadis batak, monggo kerso, yang penting setia Om, doakan kami langgeng ya...
Seperti Om Kuhon tulis sebelumnya, permasalahan selalu ada sejak manungso dilahirken, menikah juga mungkin awal banyak persoalan baru, tapi ya itu tadi Om, kami sepakat mencicipinya dan menelannya meski ga tau seperti apa rasanya dan akibatnya. Keloloden? Keselek? Mesem-mesem naham kecut asem? atau malah kecap-kecap keenakan sambil merem melek? Insya Owloh kami siyaaaaap... .!!! Doakan kami berhasil yaaaa penontonnn.. ..!!! Ciayoooo...
Om Kuhon, saya kok dari dulu penasaran dengan keluarga Om ya? Saya sih pingin kalau nanti Om bawa buntut dan nyonya ke resepsi saya, biar sekalian teman-teman eks HJ dan Jayakarta yg datang bisa bersilaturahmi dengan mereka. Jangan takut kehabisan makanan Om, saya sudah siapkan dengan cukup, asal jangan pada bawa ransel untuk bungkus aja ya...
Untuk teman-teman semua, kami tunggu kedatangannya di Kalibata. Bukan di pabrik sepatunya, bukan di makam pahlawannya, tapi di gedung pinggir rel keretanya, namanya Ditjen Disbangda Depdagri yaaaaa... Rekan-rekan senior di Jayakarta, kami dengan ini juga mengundang untuk boleh bersua dengan teman-teman lain di sana, monggo silahkan, kami menyambut semua dengan tangan terbuka...
Om Kuhon, saya mohon maaf sebelumnya, saya melanggar apa yang telah Om Kuhon ajarkan sejak di pesantren Al Kuhn dulu.. Om selalu bilang untuk proud as a journalist, tolak amplop! Tapi tanggal 6 nanti kayaknya saya ga bisa tolak amplop dan uang kerohiman dari para tamu yang datang... Maaf ya Om, tapi malam itu dari jam 7-9 malam saya berenti dulu jadi wartawan... Saya cuma mau jadi suamibuat istri saya aja ah.. hehehehehe.. .
Piss la yauuuuw....

======================
Om Tio Nimbrung:
Bos Kuhon n Dinda Yuk....

Nikah lintas provinsi... lintas pulau... lintas adat...
Saya yang Jawa sempat menjadi "Datuk Maringgih" selama sehari.
Sebelum menikah diberi gelar "Sutan...... "
Yuk... Nikmati dan resapi acara pernikahan yang "serba lintas".
Sebab, kalo sudah ngamar, semuanya nggak ada lagi... kecuali "begituan... . "

Thx...... Sang Penendang TONG

======================
Tanggapan Nina:
setelah ini tayang, Yulius (dan Ria) pun sudah tidak perjaka lagi.. :D

Seupil Kenangan dari si Phil "tempe"

By Philipus "Tempeus"


Salam,

Ketika membaca email dari milis Harjak...yang ada senyum-senyum dan berusaha mengingat tempo itu.

Teman di kantor KBR 68h menegur," kenapa lu mesem-mesem, "
saya jawab juga dengan mesem- mesem.

Betul kenangan itu bisa membuat saya mesem- mesem. ada banyak kenangan dan perjuangan di lantai itu.

Ada banyak juga ketegangan 'di lantai itu kalau sudah mendekati pukul 10!

Tapi betul..kenangan itu membuat saya belajar, kenangan itu amat kuat.Saya merasakan atmosfir yang kuat! Atmosfir yang bisa menimbulkan sebel, senang dan juga bangga! kadang rindu kenangan itu bisa 'nongol lagi...entah bisa atau tidak.

Kenangan di lantai itu amat berbekas buat saya. ah...

salam hangat

Apresiasi Persahabatan dan Masa Lalu

By Panti




Pak, itulah indahnya kehidupan. Ketika kita bersama, terasa banyak sekali perbedaan. Hingga kita saling menyalahkan, kadang juga membuat kita sampai berkeluh kesah (nggrenengi) Pak AK di balik gedung (mungkin, pohon rindang yang menaungi pedagang di SCBD jadi saksi).

Tapi, begitu Pak AK pamitan dulu, saya sedih sekali. Saya yang terbilang jarang menangis, malam itu benar-benar menangis dari hati. Dan, ketika sekarang tidak bersama lagi, saya (dan mungkin teman-teman) banyak mengambil sisi positif dari Pak AK. Saya merasa banyak sekali belajar dari Bapak.

Kita justru merasakan kebersamaan, saat kita tidak bersama. Itulah indahnya hidup.

Terus terang Pak, saya tidak bisa komentar tentang pengalaman kemarin-kemarin. Setidaknya untuk sekarang ini. Bukan saya lupa atau malas. Tapi, setiap saya baca blog the meeting point atau baca milis, saya lebih sering menangis terharu. Ternyata, orang-orang Harjak luar biasa dalam menghargai sebuah persahabatan dan masa lalu...



Panti

Pers, Harapan Terakhir Tegakkan Demokrasi

by A. Kuhon




Teman-teman,
Sudut mata saya yang sipit agak basah membaca email David, Yon, Norman, Nina, Coki dll. Saya tidak sangka cukup banyak duka yang menggores, sewaktu kita bersama selama beberapa bulan. Saya sebetulnya tidak berbuat banyak, karena semua karya yang terjaring dan terpublikasikan merupakan jerih-payah teman-teman, yang kemudian kita akui sebagai hasil kerja kolektif.

Sejak saya jadi wartawan Kompas di awal dekade 1980-an, salah satu tekad saya adalah mempertebal barisan wartawan Indonesia yang profesional, andal & beretika. Karena wartawan dengan medianya, menurut saya, merupakan harapan terakhir atau the last resort bagi proses demokratisasi. Ketika kalangan eksekutif terlihat brengsek, biasanya masyarakat mengadu kepada legislatif. Jika legislatif dan eksekutif sama-sama brengsek, maka masyarakat akan meminta pihak judikatif menjatuhkan sanksi kepada pihak eksekutif dan legislatif. Apabila judikatif, legislatif dan eksekutif sudah bobrok semua, maka masyarakat akan minta bantuan pers guna menegakkan demokrasi.

Bangsa ini akan ambruk, jika seandainya kaum pers (wartawan dan medianya) juga ikut bobrok ketika pilar-pilar demokratisasi lainnya sudah runtuh. Jadi, mari kita pahat "Kaidah Umum' di dinding nurani yang paling depan, agar bisa terbaca setiap saat, bahwa kewajiban utama jurnalis adalah membela kepentingan publik dengan berdasarkan pada etika profesi, tanpa harus menjadi miskin atau kehilangan integritas.


Salam,

You Raise Me Up

by Nina


Sore ini saya denger lagu Josh Groban, You Raise Me Up....

Mendadak terbayang suasana kantor bercat kuning telur (mengutip Bang Choki hehe..) Saya ingat, di bulan-bulan terakhir kita di HarJak, Yulius (YUK) sangat rajin memutar lagu Josh Groban ini, setiap hari, setiap saat, looping, sampe berminggu-minggu. (haha..)

Saya juga ingat, suatu saat, YUK sedang memutar lagu tersebut, saya langsung berteriak-teriak, memprotes, "Mbok ya gantiiii lagu laen gitu loh, YUUUUK.." tapi dengan tegar, YUK tetap memutarkan lagu itu, bahkan sambil ikut-ikutan bernyanyi dengan suara merdunya (di mana do sampai so, nadanya sama aja, gak berubah).

Sejak saat itu, setiap kali YUK memutar lagu itu, saya langsung berteriak-teriak lagi (memprotes), teman-teman lain tertawa. Padahal saya serius lho, lama2 gedek juga ama lagu itu. Tadinya suka, sampe jadi gak suka, karena terlalu sering diputar ama si YUK. Sampai-sampai saya sempat punya rencana jahat untuk menyembunyikan speaker komputernya YUK, tapi nggak berhasil. hahahaha...

Suatu hari, YUK memutar lagi lagu tersebut, saya diam saja. Rupanya, Pak Pea (Hutapea)--yang sejak saya masuk sampe bubarnya HarJak tetap setia duduk di samping saya--keheranan, "Tumben nggak protes Nin?"

Saya jawab, "Capek, Pak.."

Hahaha..

Itulah hebatnya, YUK. Meski diprotes, tetap tegar dengan Josh Groban-nya.. . Sama seperti anak didiknya Bang AK (jebolan pesantren kilat Al-Kuhon) yang tahan banting dan tetap tegar meski mendapat "cobaan" di lapangan maupun di kantor.

Bicara "cobaan" di lapangan, saya teringat Ririen, yang pernah meliput kejadian penyitaan gedung yang melibatkan preman dan Pol PP. Protes orasi yang berubah menjadi keributan dan lempar-lemparan batu. Syukurlah, Ririen nggak terkena lemparan batu, soale ada rekan wartawan dari media lain yang terluka terkena lemparan.

Ririen balik ke kantor dengan wajah pucat (saya ingat betul, karena kami kan satu tim) lalu memperdengarkan rekaman orasi yang berubah jadi teriakan-teriakan dan bunyi puluhan benda keras membentur kaleng (pagar) dan tembok. Meski begitu, Ririen yang bertubuh mungil ini tidak lantas gentar meneruskan tugas sebagai reporter, malahan ke depannya, prestasi kerjan dia makin gila (dalam artian positif). Salut, Ririen! *hugs utk Ririen*

Saya kira, masih banyak cerita lain yang serupa, dan terus terang, sempat membuat saya menggeleng-geleng takjub dengan kekuatan mental anak-anak Al-Kuhon! ;) Kok bisa ya, Bang AK membangkitkan semangat juang dari anak-anak didiknya.. Some of us have shown an energy beyond our own expectation lho...

Salut lagi untuk Bang AK! You're the best! :)

Jayakarta dan Jakarta (Part 3)

by Cecep Rahmat


Salam terbuka para awak gang arus,
Beberapa waktu yang lalu Bang Albert Kuhon (AK) sms minta email para mantan kuli gang arus ... waduh ... melalui forum ini sy sambut baek dan terharu .... lho kok ....... ternyata abangku ini masih ingin merajut tali silahturahmi .... bagi awak gang arus maupun awak gang semanggi .......
Setelah lebih puluhan taon berpisah ...... sms abang menyejukkan .... jadi deh .... muter memori sejenak .... Oh.... bang Ak, ada P'Suryohadi, Yan Nabut, Herman Hakim, Roso Daras, Abas Prabowo, Mulyadi, Khaerudin Zaman, Iswati, Laurens S, dan segerombolan baret biru yang dikomandoi Ak - Timbo S (yang Jadi Juragan), David Soepyan (orang bogor), Herry Ponto ( Pengacara Kondang), Primus Dorimulu (Juragan Investor), Diana Runtu, Sihap (bnp), Suud Bajeber, Trubus S, Ig. Gunarto, Mulia Siregar, Lita, Laksmi dan laen-laen yang belum keputer memorinya... .
Tapi, ingat ga ..... Bang AK pernah mati kutu ama reporter wong solo - lulusan sastra jawa - Solihin ..... soalnya - sang abang klau pas ng push spirit segerombolan geng baret biru gang arus - nampak berwibawa ... dan hampir semua nyank dapat pembekalan musti tertunduk ....... tul ga ..... ha....ha.... ......... Pas malem, giliran Solihin di panggil - baru kali itu intonasi suara nyaris tak terdengar ...... ampe ... bang AK garuk-garuk kepala ............
Sejuta kenangan, sejuta pesona, sejuta nestapa, sejuta pengharapan - harus diakui abang AK hebat ...... hampir semua diajari tanpa terkecuali .......
Kiranya, aroma masa lalu membuktikan .... Para Pengungsi Gang Arus ..... tak kan hanyut dikenal masa .... Ayo ..... Tunjukan Taringmu ......ha.... ha....ha. ..... Asssssuuu... .eeeee... ..mmmmmmmmm. .........

Salam Inget,
Cecep / Sekretaris Redaksi
(Masih Inget gak .......)

Jayakarta dan Jakarta (Part 2)

by Yon Moeis



Sebenarnya saya ingin marah kepada David. Kami sudah janjian untuk bertemu Albert Kuhon. Tapi kemarahan yang sudah mendidih ini seketika menjadi dingin setelah membaca tulisan di bawah ini, tulisan yang, bisa disebut sebagai "kembali sejenak ke masa lalu".

Teman-teman, ini mungkin tidak melengkapi. Tapi hanya sekedar menambah apa yang sudah ditulis Albert Kuhon (selanjutnya AK), siapa tahu, teman-teman (juga teman-teman dari Harian Jakarta) ada yang menambah.

AK adalah orang hebat. Kami pertama kali bertemu di Jl. Dewi Sartika, kantor Jayakarta, yang pelataran parkirnya lebih besar dari ruang kantornya, pada akhir Agustus 1989 sebelum koran ini terbit. Mejanya berada di dekat pintu keluar ke belakang (jalan tembus ke halaman parkir Suara Pembaruan), dan dekat pintu ruang rapat. Ya, dia orang hebat dan harus saya katakan karena ada ilmu-ilmu yang saya "colong" dari dirinya. Ilmu-ilmu AK yang sebelumnya tidak saya dapat di Media Indonesia (gedung di Gondangdia itu, dahulu, penuh dengan teror).

Beruntung saya tidak berada di bawah AK. Saya, juga kami di Jayakarta, hampir setiap hari melihat ada air mata yang tumpah, ada caci maki, ada teriakan, ada kemarahan, ada pula yang pergi dan tak pernah kembali. Semua ada dan saya pernah melihat langsung bagaimana salah satu calon reporter (maaf saya sebut calon), "terkencing- kencing" dibebesin AK di ruang rapat.

Ini semua terdengar sangat menyebalkan. Tapi, saya melihat aksi-aksi AK ini dari sisi yang lain. Saya melihat teman-teman yang bertahan (di, ds, hp, ss, dan beberapa nama) bukan karena tidak merasakan apa yang kami sebut sebagai pelajaran "Ala AK". Rasanya, hampir semua, tak terkecuali, pernah merasakan damprat AK.

Ini, yang saya sebut ilmu AK yang saya colong itu. Kita memang tak bisa hidup sendiri. Pekerjaan ini adalah pekerjaan kolektif. Bahwa AK adalah komandan, itu harus dihargai. Dia pasti ingin mencetak calon-calon reporter itu menjadi reporter andal, tidak cengeng, tahan banting, loyal, mampu bekerja cepat dalam tekanan (apapun bentuknya). Dia tak ingin, nantinya, wartawan Jayakarta menjadi wartawan tempe (saya kembali menyinggung ini dengan A. Lukman, mantan wartawan Tempo, ketika dia mampir ke Koran Tempo di Velbak, beberapa waktu lalu).

AK memang orang hebat. Saya mendengar nama ini ketika dia masih berada di Kompas dan meninggalkan Pal Merah hanya karena dia tak mau meminta maaf kepada JO. Sebuah sikap yang mungkin tidak kita miliki. Saya juga sedikit mendengar AK ketika dia memperdalam bahasa Inggrisnya di EEC di dekat Slipi, dari seseorang yang kemudian menjadi istri saya. AK, katanya, orangnya penuh humor, dan suka meramal orang.

Saya juga belajar apa yang dia tulis untuk Jayakarta. Salah satu tulisan panjangnnya (berseri) adalah tentang Bank Rakyat Indonesia, tulisan yang dalam, tajam, dan berdaging. Sebuah reportase yang cantik.

Teman-teman, suka atau tidak suka (lepas siapa AK dahulu), dia harus kita akui sebagai orang hebat, orang yang bisa menjadi inspirasi ketika teman-teman di Jayakarta, juga Harian Jakarta, kini bertebaran dimana-mana.

Bang Kuhon, salam hangat. Wajah Abang yang saya lihat di meeting-point, jauh berbeda, terlihat sejuk ...

yon moeis
www.yonmoeis. wordpress. com
(tio, apa khabar, sehat-sehatkan)

=========================
Tanggapan David:
maap-maap seribu maap bos....ketemuan ama si abang kagak sengaja..dadakan bos yon...maap ya...
satu yang gw salut dari bapak jabrik...blak2an. ..dan ampe sekarang masih begitu tuh...tabik- tabik deh buat albert kuhon.
gw inget pertama kali dateng ketemu jabrik di ktr yang kecil n kayak koran kgk ada masa depannya...pakaian rapih bawa tas kamera (karena gw masih di harian Terbit sbg fotografer). Pas ditanya bisa jadi wartawan tulis? gw bilang gw coba...eh dia marah n bilang gak ada pake coba2. Bisa apa kagak! Gw bilang bisa, langsung disamber mulai senin besok. Asli gw mpot2an ketemu bos yang geblek.

Peristiwa kedua yang gw msh inget ampe sekarang, waktu disuruh ngeliput ke cibodas puncak, yang tanah sawah mau dibikin lapangan golf atas undangan rekan2 aktivis. Dilokasi gw ditinggalin sendirian ama para aktivis pas ada polisi2 ngebubarin para petani yang demo. Untung gw bisa potret tuh petani yang dipopor ama bedil polisi. AK marah besar ama aktivis2 itu waktu gw lapor. Soalnya gw jiper juga waktu diancem ama polisi2 itu.

Dan itu tidak berubah ternyata ampe sekarang.... sifat ngebela temennya AK. Sayang ada temen2 yang pada kagak nyadar n aji mumpung ama sifat lembeknya si abang itu.

ini cuman intermezo aja yah....yah namanya juga forum temu kangen..

david soepyan


Tanggapan Choki:
Bertemu, bergumul, pergi, kemudian menjadi cerita.
Waktu silih berganti, membentuk zaman: lintas generasi.
Dikenal dan dikenang.

Banyak yang hidup, tapi tak semua menjadi makna.

Dan berkatalah Raja Yedija lewat Amsalnya
"Besi menajamkan besi, orang menajamkan orang"

(Bang Yon, terimakasih untuk sharingnya)

Jayakarta dan Jakarta

by A. Kuhon




Aloha,

Kemarin malam di akhir November yang baru lalu, David Soepyan ngajak saya bertemu. Kita janjian di Citos, tapi akhirnya ketemu di McDonald di Pondok Indah. David mantan reporter Harian Jayakarta. Kita ngobrol agak panjang. Siang hari yang sama, saya juga bertemu dengan Agus karyawan, mantan redaktur Harian Jakarta.
Jakarta dan Jayakarta, nyaris sama bunyi maupun artinya. Kebetulan dua-duanya harian. Dan saya pernah singgah di kedua harian itu. Atau sebaliknya, kedua harian itu pernah menyelinap dalam kehidupan saya. Sangat kental, sampai tiap malam saya geluti hingga menjelang pagi.

Sekitar 20 tahun yang silam, di akhir tahun 1988, saya masih berstatus wartawan Harian Kompas. Saya harus bilang 'berstatus', karena pada kenyataannya saya waktu itu tidak boleh menulis. Gara-gara dinilai menjadi pentolan yang memelopori pembentukan serikat pekerja di koran tersebut sejak 2-3 tahun sebelumnya. Pada awalnya, saya didukung oleh Ucok Maruli Tobing, Irwan Yulianto dan Rikard Bagun. Namun ketiganya (beberapa hari setelah penandatanganan pendeklarasian serikat pekerja di redaksi), diam-diam meminta maaf kepada petingi di Kompas dan mengakui 'kesalahan' mereka.

Akhir tahun 1988, Albert Hasibuan SH dari Suara Pembaruan menawarkan pekerjaan sebagai Kepala Biro Suara Pembaruan di Amerika Serikat. Sementara itu pada saat yang sama, tulisan saya tidak pernah dimuat lagi di Kompas. Saya cukup lama terkena pembreidelan karena upaya mendirikan serikat pekerja di sana, dan diharapkan mengundurkan diri dari harian itu. Waktu itu, saya persilakan pihak Kompas memecat saja jika memang saya bersalah. Tetapi, mereka tidak mau memecat saya dan berharap saya yang mengundurkan diri sehingga sampai pertengahan tahun 1989, saya masih jgua berstatus wartawan di Kompas.

Setelah berdoa setiap malam selama berbulan-bulan, akhirnya saya terima tawaran dari Bang Hasibuan dan hijrah ke Suara Pembaruan. Saya dimintanya menyiapkan diri berangkat ke Amerika, guna menjadi kepala biro Suara Pembaruan di sana. Kebetulan ketika itu kontrakan rumah sudah hampir habis, sehingga saya tidak perpanjang lagi. Namun, pertengahan Agustus 1989 saya diminta membantu membidani penerbitan kembali Harian Jayakarta, yang ketika itu sahamnya baru dibeli oleh pihak Suara Pembaruan.

Tanggal 22 Agustus 1989 saya menerima daftar nama 11 orang tenaga redaksi dan lay out, diiringi dengan perintah agar Harian Jayakarta sudah terbit tanggal 1 September 1989. Saya banyak dibantu oleh Atmadji Sumarkidjo (redaktur Suara Pembaruan, sekarang di RCTI), Suryohadi (redaktur Suara Pembaruan, ketika itu jadi Pemred Jayakarta), Laurens Samsoeri (redaktur Suara Pembaruan, Wakil Pemred Jayakarta), serta Aco Manafe (wartawan senior Suara Pembaruan). Ada juga wartawan lama Jayakarta seperti Roso Daras dan rekan-rekannya. Namun sebagian besar hanya bertahan 1-2 minggu lalu hengkang bersama Peter Rohi. Roso, Iswati dan Khairuddin Zaman adalah dua di antara wartawan kawakan yang tetap menemani saya di Jayakarta.

Supaya agak mentereng, saya diberi pangkat Redaktur Pelaksana. Dengan persiapan semampunya, akahirnya tanggal 1 September 1989 Jayakarta terbit kembali. Setelah itu, Tuhan menyambut doa saya, selama beberapa bulan pertama berdatangan tenaga segar seperti Norman Meoko (kini di Sinar Harapan), Mulia Siregar (Pemred Monitor Indonesia), Ignatius Gunarto, Suud Bajeber, Diana Runtu, Primus Dorimulu, David Soepyan, Harry Ponto (pengacara kondang), Arlita (aktif di usaha jasa boga), Santhy Sibarani (sekarang di Media Indonesia), Handini, Yonathan nDjuruhapa, dan banyak lagi. Selain itu, bergabung juga wartawan yang sudah berpengalaman seperti Abbas, Timbo Siahaan (sekarang pimpinan Jak's TV), Tiana, Yan Nabut (masih aktif jadi redaktur olahraga), Yon, Herman Hakim Galut (kini di Voice of America), Mulyadi, Rina Gintings (sekarang kembali ke Saura Pembaruan) dan lain-lain. Teman-teman yang masih baru, langsung msuk pendidikan di 'pesantren kilat'.

Saya tidak lama di Jayakarta. Namun segalon tinta tidak akan cukup buat menuliskan secara lengkap cukilan perjalanan hidup saya yang hanya beberapa bulan di Harian Jayakarta. Tahun 1990 saya berangkat ke Amerika, beberapa saat sebelum Perang Teluk berkecamuk. Ketika Perang Teluk pertama meletus, saya sudah keluar-masuk Pentagon dan State Department maupun Kongres AS di Washington DC, meliput sebagai koresponden Suara Pembaruan di sana.
Pulang dari Amerika tahun 1997, saya dijanjikan suatu jabatan dengan tingkat imbalan tertentu. Tetapi karena sesuatu hal, janji tersebut akhirnya tidak dipenuhi. Saya cuma difungsikan sebagai staf di Litbang Suara Pembaruan, dengan total gaji Rp 900.000 per bulan. Saya keluar Agustus 1997 dan bergabung ke Surya Citra Televisi dengan penghasilan lebih dari lima kali lipat dibandingkan gaji di Suara Pembaruan.

Tahun 2002 saya keluar dari SCTV, membangun Arendi Kemala, perusahaan konsultan manajemen krisis. Suatu ketika, ada urusan yang membawa saya bertemu dengan Upa Labuhari dan Timbo Siahaan di dekat Gedung Akademi Pariwisata di sekitar Semanggi. Timbo dan Upa (selain membahas urusan saya), kemudian meminta saya menyusun program pelatihan bagi wartawan Harian Jakarta dan Majalah Pilars. Permintaan itu kemudian dilanjutkan juga dengan permintaan Mochtar Siahaan (ketika itu Pemred Jakarta), yang malah menjanjikan saham bagi saya jika saya bersedia bergabung.

Walau saya ketika itu sedang menangani beberapa proyek, akhirnya saya penuhi permintaan teman-teman lama tersebut. Awalnya saya bergabung sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Harian Jakarta. Saya diberi keleluasaan merekrut wartawan baru, melatih melalui 'pesantren kilat' Al Kuhon, dan menugaskan mereka. Melalui rekrutment itulah terjaring Agus Karyawan, Abdul Samad, Rina Rahardjanti, Ririen, Lila, Cice, Elva, Yulius, Dwi, Iwan Suci Jatmiko, Ulisari, Lisa, Coki, Elvira Anna, Yudi, Wiwiek, Uup, Nazhori, Herwanto, Folmer, Erguna, Nina, Riri dan lain-lain. Meoko juga hampir masuk kembali, begitu pula Jannus Siahaan (sekarang Direktur PT Inco).

Pergumulan saya di Harian Jakarta sebetulnya cuma sekitar lima bulan. Saya masuk Maret 2004 (sebagai Wakil Pemred), dan keluar awal Agustus 2004 (sekitar sebulan setelah jadi Pemred). Selama lima bulan tersebut, rata-rata saya habiskan waktu sekitar 16 jam per hari bagi Harian Jakarta. Hampir tiap hari saya berangkat pagi dan pulang menjelang dinihari.

Saya memastikan diri keluar dari Harian Jakarta ketika Timbo Siahaan selaku direktur menyatakan ingin menduduki jabatan Pemred Jakarta, suatu sore (kalau tidak salah tanggal 10 Agutus 2004). Dua jam setelah itu saya memimpin rapat redaksi, seperti biasa, tanpa ada tanda-tanda bahwa saya akan pergi. Dalam rapat itu, saya tagih laporan dari masing-masing redaktur, sesuai dengan yang diproyeksikan sebelumnya. Rapat dihadiri juga oleh Timbo Siahaan dan Yulizar (dari pihak perusahaan, yang diminta Timbo menjadi saksi).

Malam itu juga saya pamitan (secara fisik) dari teman-teman. Namun, secara jiwani saya masih juga bersama dengan teman-teman. Dan sampai sekarang, kita masih juga bersama-sama. Ternyata, kebersamaan itu membangkitkan kekuatan.

Setidaknya, kekuatan yang membawa kita bertemu kembali.

Paling tidak, kita semua diundang reunian oleh Ria dan Yuk. Iya kan?


(malam Minggu, akhir November 2008)

Cerita Kepompong dalam Tong (Part 2)

by A. Kuhon
Menanggapi cerita Kepompong dalam Tong... :D












Awal2nya......

Boss: Kerja yang baik ya..., kamu tenang2 saja.



Setelah Sebulan!!

Boss: .... Hayoo... kerja jadi reporter yang giat ya...




Setelah dua bulan...

Boss: ............ .Harus meliput lebih giat!! Mengerti !!



Setelah 4 Bulan.......??

Boss: ...Ayoooo, meliput dan meliput lebih giat!! Jangan nendang tong!


==============================

Tanggapan YuK:

WAKAKAKAKAAKAKAKAKA KAK.....
OM KUHOOOOOONNN. ..
huehehehehe. ..
lucu gila nih, gue sampe ngakak, jadi panjang deh kasus pelecehan tong sampah nya ... hehehehehe..
Miss you guys..
NB :
Ingat, tinggal seminggu lagi jelang pernikahan saya dan Ria, tandain kalendernya yaaaa....pasang alarm di HP dan reminder... GBU Ciaaa

Cerita Kepompong dalam Tong (Part 1)

by Oitnarpus :)


Cerita Nendang Tong

Kisah saya nendang tong perlu diluruskan (disempurnakan) , biar informasinya akurat..he.. he..

Awalnya, saya tidak ingin nendang tong sampah. Saya cuma melempar koran ke arah PP, tetapi meleset. Koran melayang ke arah white board. Penasaran... saya bangkit ingin meninju-nya. Tetapi, dia sudah kabur ke balik pintu.

Saya kejar ke ruangannya. Tetapi, dia sudah turun dari lantai dua. Karena masih kesal, saya tendang tong sampah sampai melayang ke pintu ruangan PP. Sang sekretaris, Lusi, ketakutan setengah mati. Saat itu juga, dia minta mundur kerja.

Beberapa menit kemudian, big boss Mr David menelpon saya. Dia bilang, "Tio... lu mau jadi jagoan. Di kantor gua nggak ada preman.... "

Rupanya sang PP lapor ke big boss. Belakangan saya ketahui, dia merasa mendapat ancaman fisik...

Tiga hari berikutnya, ada rapat lengkap... "Soal nendang tong sampah" juga dibahas. Tetapi ternyata, big boss "bisa memahami" tindakan saya.... Mengapa? Mungkin alasannya bisa minta cerita lengkap dari Panti dan kawan-kawan yang hadir di ruangan "bersejarah itu".


Salam
========================
Tanggapan AK:

Hua ha ha ha....
Ternyata "Hatta Rajasa" bisa ngamuk juga, membela kepentingan brayat-brayat proletar yang terombang-ambing. Maksudnya PP kuwi sopo, Kang? Pemuda Pancasila? Kalo Pemuda Pancasila kan teman-teman kang Tio juga. Hua haaa haaa......
Memang betul, di kantor itu tidak ada preman. Apa lagi ketika Tio nendang kepompong dalam tong. Premannya kan cuma Albert Kuhon dan waktu itu dia sudah pergi.... hua ha ha ha.....

Bagai kepompoooooong. .......


Tanggapan Nina:
Hhehehe.. saya masih inget kejadian ini, hanya saja nggak tau persis ceritanya gimana.
Begitu sampe ke kantor, semua orang berwajah tegang. Saya lupa siapa yang bilang (pokoknya cewek) memberi tahu kami--yang bengong-bengong bingung di luar kantor bahwa Pak Tio "ribut" sama someone lalu menendang tong sampah.

Waktu itu saya (dan Ririen) takjub. Sepanjang kenal Pak Tio di Harjak, saya yakin Pak Tio orang yang sangat bisa mengendalikan diri, kok hari itu bisa "mengamuk"? hihihi.. hayo dong cerita lagiiii.. kan tiada asap tanpa api.. :D


Tanggapan Panti:
Aku cuma ngeliatnya gini, Pak Tio gak penampilannya aja mirip seleb (Hatta Radjasa). Tapi juga punya bakat akting kayak Nicolas Cage (Con Air). Saat nendang, menjiwai banget...ha. ..ha....ha

Nostalgia bersama KEPOMPONG (Part 4)

by Choki


Nin, ehm, jujur, aku salut sama kau. Salut yang datang dari lubuk hati yang paling dalam. Izinkan aku mengacungkan dua jempol tangan ini untukmu. Just for you...!

Malam ini sebenarnya aku ingin merampungkan membaca buku karya sejarawan Inggris, John Mann, yang berjudul Jenghis Khan -Legenda Sang Penakluk Dari Mongolia- yang kubeli dua atau tika pekan silam di Gramedia Depok, yang hanya 'selemparan batu' jaraknya dari kontrakanku. Aku memang harus menulis artikel - setidaknya seminggu sekali - untuk rubrik Kalam Hati di website olahraga yang aku kelola, www.warungolahraga. com.

Tapi, niatku itu pupus. Blog 'mitingpoin' yang kau buat lebih menggoda aku. Dan aku meng-klik-nya, melahap setiap tulisan satu persatu. Romantisme masa lalu itu kembali hadir, menguasai pikiranku.

Lalu foto-foto itu...

Biarlah semua berlalu, seperti apa adanya. Kita tatap masa depan, meski kadang samar menghadang. Namun, tetaplah maju. Jangan ragu, takut apalagi. Laiknya mendaki gunung, setiap persoalan itu kita jadikan tanjakan menuju puncak. (Aku bukannya bermaksud mengguruimu, karena, seperti kata Chairil Anwar,"Aku ini binatang jalang yang terbuang")

Teruslah berkarya, Nin. Sekecil apapun itu. Tetap semangat. Salam buat keluargamu. God bless us.

(Bolehkah aku melanjutkan membaca buku ini, Nin?)

===================================
Tanggapan Nina:
Bang Chokiiiii...
email dan dukunganmu terhadapku membuat aku terharu, sampai menitikkan air mata.. Sungguh, kata-kata Abang itu memompa semangatku untuk lebih banyak "berbuat" daripada berniat semata. Apalagi, sosok Bang Choki sudah jelas-jelas aku kagumi sejak pertama aku melihat Bang Choki berjoget asyik di Hotel Borobudur saat ada perhelatan akbar halal bihalal dulu itu lho.. :)

Terimakasih atas dukungan Abangku tersayang ini.. *hugs*

Nah, sekarang, silakan lanjutkan membaca bukunya, Bang! Dan buatlah artikel seindah mungkin, yang tidak hanya membangunkan kita semua dari tidur, melainkan membuat kita bangkit dan lebih berani berbuat untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik! *huhuy* :D

Kangenku untuk Bang Choki, rekan-rekan eks Harjak dan Jayakarta. Terimakasih sudah mewadahi kami dalam milis yang bermanfaat ini. Keep rockin!! ;)

Nostalgia bersama KEPOMPONG (Part 3)

by Nina



Wah... ternyata bener-bener beragam yaa cerita semasa di Harjak ini... :D

Untuk itu, Nina mohon izin kepada Bang Kuhon dan semua rekan-rekan peserta milis ini, untuk "mengabadikan" cerita suka-duka di Harjak ini ke dalam sebuah wadah yang dinamai blog. Intinya adalah, sharing cerita "di balik se-oplah koran".. :D

Terus terang, aku terinspirasi bahasa "sastra jurnalis"-nya Bang Choki...sungguh indah dibaca, meski saat mengalaminya kita sempat berurai air mata dan mengurut dada. Aku sudah mendaftarkan sebuah blog dengan nama: "The Meeting Point". (Pastinya ngerti kenapa aku pake nama ini, Hahaha...) bisa dilihat ke:
http://the-meeting- point.blogspot. com/

Yaah, itung-itung jadi "behind the scene"-nya Harjak deh. hihihi..

Buat rekan-rekan ex Harjak yang berminat menjadi penyumbang tulisan di blog ini, mau tulisan apa ajaaaa, dipersilahken. . tinggal kabari Nina aja yaa...

Nostalgia bersama KEPOMPONG (Part2)

by Choki
(Menanggapi ledekan Mbak Panti soal "takut naik motor")



Kwak...kwak. ..kwak...

Mba Panti...Mba Panti. Masih ingat saja sama tuh cerita. Kalau saiki aku wis jago, Mba.

Ingat Mba ini, jadi ingat seraut wajah teduh di balik jendela kaca gedung bercat kuning telur (Gedung Pariwisata, Kantor Harian Jakarta -Red). Sekali-sekali aku melirik, tatkala masuk atawa ke luar ruangan. Wajah teduh itu - dengan mata yang terus awas - tak henti menatap
tabung komputer.

Letih. Dia ke luar, duduk di sofa lembut di depan pintu kantor. Tak lama dia menyantap semangkok bakso dengan saus yang tak terlampau banyak.

Aku terus menatapnya.. .

Mba Panti...

(Salamku buat Bang Iwang. Kami pernah bersama di Pancoran, meski tak lama)

========================
Jawaban Panti:
Wah jago juga ya bikin tulisan jurnalisme sastrawi.... Gak nyangka benerrrrrr. Cuma kayaknya di Harjak gak ada bakso deh, mungkin mie ayam kaleeeeeee.. ..Trus joknya di Harjak gak lembut, tapi udah bulukan...
AKURASI, INGET AKURASI! Malu dong ama Pak Kuhon.

Yang pasti, aku selalu inget kisah di Harjak---baik yang lucu, manis, pahit, dan rada-rada sepet gitu loch...Termasuk saat terakhir Pak Tio ngamuk, nendang tong sampah....ha. ..ha...ha

Tq




Penasarannya AK:

Wah Tio nendang tong? Baru dengar tuh ceritanya! Maksud Tio sebetulnya nendang kepompong, tapi waktu itu belum ada kepompong, sehingga yang muncul cuma tong. Maka, ditendanglah tong, sampai mence...tong. Gara-gara nendang tong, Tio jadi kayak Hatta Rajasa.
Ada yang bisa menjelaskan kesalahan tong sampai dia ditendang Tio?

Nostalgia bersama KEPOMPONG (Part 1)

by Choki


Kami bertemu lagi, setelah 10 tahun tak bersua. Dia mengambil gitar,
kami lalu bernyanyi. Mengingat lagi masa-masa muda, masa-masa di mana
bathin berdetak sangat kencang. KEPOMPONG, Sind3ntosca.

Dulu kita sahabat/ Dengan begitu hangat/ Mengalahkan sinar mentari
Dulu kita sahabat/ Berteman bagai ulat/ Berharap jadi kupu-kupu

Bridge:
Kini kita berjalan berjauh-jauhan/ Kau jauhi diriku karena sesuatu/
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan/ Namun itu karena ku sayang

Reff :
Persahabatan bagai kepompong/ Mengubah ulat menjadi kupu-kupu/
Persahabatan bagai kepompong/ Hal yang tak mudah berubah jadi indah/
Persahabatan bagai kepompong/ Maklumi teman hadapi perbedaan/
Persahabatan bagi kepompong

(Kau kini telah menjadi 'kupu-kupu', sahabat. Cantik, segar pula.
Maafkan aku waktu itu. God bless u)


====================
Tanggapan Bang Yon:
Kau kini telah menjadi 'kupu-kupu', sahabat. Cantik, segar pula.
Maafkan aku waktu itu. God Bless U ...

kira-kira siapa ya, yang dimaksud choki 'kupu-kupu' nanti cantik, segar, dan dia merasa berdosa sehingga harus minta maaf itu ... ?
ada yang bisa bantu?

yon moeis
(yangsudahjanjianamadaviduntuksegerabertemujugadenganharrypontoh)


Tanggapan Panti:
Chok, udah deh jangan berkhayal... ..udah pinter pakai motor belom? Aku masih inget ceritanya dia nih...dan kalau inget masih suka ketawa sendiri.

Dia tuh gondrong, tapi takut naik motor di Jakarta. Meski penakut sok jago. Karena malas menyeberang di Jl Gatot Subroto, dia sok jago lewat jembatan penyeberangan. Padahal tanjakannya tinggi banget. Tar kalau lagi mau naik, nyali langsung ciut. Belum lagi papasan ama motor lain. Brrrrr...... ....

Ada AK di KA (Kick Andy)

by Uul

Tanpa disengaja,barusan saya lihat ada potongan wawancara andy f. noya dgn albert kuhon di acara kick andy,metro tv.
Mangkanye,nyok kite tonton rame2,hari jumat, 14 nov, pkl.21.30,di acara kick andy,metro tv
Hihii..


Tanggapan Panti:
Wah keduluan Uul deh. Sejak tiga hari lalu, aku sudah curiga "Kok kayak suaranya Pak Kuhon". Tapi rada nggak yakin aku, karena wajahnya di Metro TV terlihat ganteng dan muda.... (jangan ge-er ya)

Pak Kuhon, ada dua acara yang selalu saya tonton di Metro TV, Kick Andy dan Democrazy. Brarti Insya Allah, entar mau mandengin Pak Kuhon nih....apa sih materinya? Soal Timtim ya? Bikin penasaran nih.

[Canda] Kotak Hitam

by Oitnarpus :)


Beberapa waktu lalu, saya pergi ke Sorong. Suatu malam ada gerakan OPM..... yang membuat para pengunjung tempat hiburan kalang kabut.... Apa pasal? OPM-nya bukan Organisasi Papua Merdeka, tetapi Operasi Paha Manado......

Saat pulang dalam penerbangan dari Sorong ke Jakarta, pesawat yang saya tumpangi teguncang-guncang akibat turbulensi. Di barisan samping, ada tiga perempuan dari Jawa, Manado dan Papua.

Ketika pesawat masih terguncang, perempuan dari Jawa ambil bedak dan gincu berdandan cantik sekali.

Temannya di sebelah bingung dan bertanya, "Kenapa koq dandan?"
Dia bilang, "Biasa kalau pesawat mau jatuh yang ditolong pertama kan yang paling cantik."

Aehhh..perempuan Manado di sebelahnya ga bisa terima, lalu dia angkat roknya sampai tinggi.

Teman disebelahnya tanya, "Kenapa kau angkat rok sampai tinggi begitu?"

Dia jawab, "Biasa kalau pesawat jatuh yang pertama ditolong kan yang pahanya putih-putih. "

Hehhh..perempuan Papua sudah emosi sekali mendengar ocehan kedua teman di sebelahnya.

Dia lalu membuka baju dan telanjang bulattt..... ...semuanya tampak hitam.

Kedua temannya kaget dan bertanya, "Kenapa telanjang bulat gituuu?"

Dia menjawab dengan enteng, "kalo pesawat jatuh yang pertamakali dicari adalah kotak hitam..... "



TIO dari Raja Ampat, Papua

Kembalinya Sang Ksatria

by Yon Moeis



daviiii ............ ......... d,
gue nggak akan pernah lupa punya teman bernama david soepyan, satu dari banyak teman yang ikut membangun jayakarta (tapi lebih banyak waktu yang dibuang ak, sejak dari pinggir jalan dewi sartika).

yang gue ingat ketika elo minta dianterin di pangeran jayakarta, sebuah desa nun jauh di sana. kedua adalah ketika gue nggak bisa melepas lebih jauh ketika elo berangkat ke eropa (gue lupa kemana ya). setelah itu, elo pulang dan tidak pernah "kembali" lagi di jalan arus.

vid, ingat jayakarta, gue juga ingat orang-orang yang ikut "menentukan" arah jalan hidup gue di dunia jurnalistik, salah satunya ak. gue banyak belajar dari dia (yap, tentang abang kita yang satu ini, kita bahas tersendiri)


yon moeis
(orangyangmerindukantemantemanlamdanmenantikapankitaberkumpul)

===============
Tanggapan Harry Ponto:
Yonmoeis... Apa kabar lu..?

David yang sering muncul ilang... Semoga tidak pernah ilang lagi.


Tanggapan David:
Bapak yon.....kapan loe ada waktu....kita ketemuan yuk?
jangan alasan sibuk cari berita....siang2 aja sambil makan siang...
wassalam
david

------- jawaban Bang Yon:
harry ponto, apa khabar,
sorry, baru bisa balas, belakangan ini gue harus ke balikpapan, ada yang sedikit dikerjakan.
dimana sekarang? yang gue ingat dari elo adalah hp salah satu anak emas dari ak (benar nggak ya).
kangen juga ya, kapan kita bisa ketemu?


yon moeis
(orangyangmerindukansaat-saatbersamadijalanrayadewisartikadanpindahkejalanarus)

=====================================================
catatan peng-entry: imaji Bang Yon diambil dari blog beliau: http://yonmoeis.wordpress.com/ (silakan dikunjungi)

Ria, Tentang YUK


by Lila


Dibeberapa kesempatan saya bertanya ke Miss Ria: "Kenapa pilih Yuk?"

Jawaban Ria slalu sama: "Meski bukan termasuk pacar yg punya kriteria di atas rata2 (hahahahaha. ..), tapi Yuk sangat berpotensi menjadi suami yg baik (Aminnn)..

=============================
Tanggapan Iwan SJ:
eleeeeeh...eleeeeee h...yakin tuh si Ria bilang gitu dalam keadaan sadar. Coba cek dulu, siapa tau lagi di bawah pengaruh alkohol tuh...huahahahaha. ...piss bro!


Salam ISJ
"Buruh tukang ketik biasa"


Tanggapan Philip:
he..he...coba aja di malam pertama nanti, si yuk akan bukan topengnya jadi ....anggota srimulat.... okeh broh....tetp semangat ya...bless you

phil


Tanggapan Ria (Aha! :D )
waduh...kalian ya...doyan banget 'jailin' calon suami gue
hehehe...gpp deh artinya si yuk jak, beken bkn wikikiki
any way btw, dtng ya semua, yg punya anak bawa aja juga biar gue cepet punya anak juga
walah apa hubungannya toh ye

mba panti, iya ya kok aku yg kecantol...mba sih dulu taru aku di lenggang, dan cuma si yuk aja yg ok dilirik.... dibanding iwan jabruk tukang ganggu cewe kalu naek motor dengan kalimat mautnya...'mba mau ke mana mba...mba... walah cape deh..

Susahnya Bersekolah (part 4)

by David R Soepyan

pren,

kalo sekolah yang di gang senggol jalan dewi sartika itu namanya ABG...akademi bener2 gila....dosen cuman 1. Rektor dan pureknya nyantai nungguin jatah preman....mhasiswa antik semua, ada yang kerjanya elus2 kumis mulu ampe yang bawa buku bacaan spesial 'kitab suci' (inget gak pernah dikotbahin).

Tapi yang pasti, mahasiswanya ada 2 macam...yang gila dan yang waras...yang gila kakinya melayang2 karena idealismenya (ngandai2 media lempeng aja jalannya) sementara yang waras kakainya nginjek bumi alias hidup dalam realita (pengen jadi kaya).

Setau gua sih hanya ada satu akademi seperti gitu di indonesia dan kayaknya tidak pernah akan terjadi lagi..Kalau ada, percaya ama gua....mahasiswanya bakal demo supaya tu dosen dipecat.

btw, gua pengen tau muke ente 20 taon dari pertama kita kenal....

reunian boleh2 aja..kalo ama yang gila doank...pasti cuman snack...kalo ama yang waras ada dinner....kalo semuanya ngumpul..makanan abis karena ada yang bawa pulang buat oleh2 di rumah....

gimana?

Persiapan Calon Pengantin

by YUK


Siap! Sebagai calon manten yang lagi dipingit, saya harus mendengarkan apa kata para sesepuh, hihihhii...

Pak Tio apa kabar pak? Bertapa dimana pak? Lama tidak kedengeran kabarnya, pasti elmunya sudah tinggi ya karena jarang kelihatan sabetan goloknya di rimba persilatan. Kalau Mbok Panti sih saya masih sering bertelepati liwat SMS or tilun-tilpunan. Kabarnya Mbok kita yang satu ini semakin eksis di salah satu harian terkemuka yang dulu berjaya di medio 90-an. Elmu dan kesaktian Mbok Panti jelas diperhitungkan oleh pendekar-pendekar lain di rimba media. Salam hormat para sesepuh!

Untuk para kroco dan konco lainnya, mari kita bersama-sama berdoa, agar kita semua bisa berkumpul dengan sukacita di perhelatan Yuk dan Ria. Jangan lupa, ajaklah buntut dan bojo serta, sekalian bercengkerama dan bersua dengan kawan lama. Kita berjoget dan mangan sampe wareg! Dijamin bebas lemak babi dan halal tanpa perlu sertipikasi dari Manchester United Indonesia (MUI).. Amin ya robal alamiiiin...

Kami tunggu kehadiran para pendekar sekalian di ajang perhelatan kami, mari sarungkan sejenak golok anda, senderkan sebentar tombak sakti anda, letakkan pedang bermata dua yang penuh ajian itu, mari kita berjoget sampe teler di Kalibata.

PS : Untuk Ki Agus Karyawan, ditunggu Yuk di ruang produksi untuk potong naskah halaman Jakarta Pusat..!!! Wakakakakakakak. .....

=====================================
Tanggapan Panti:
Busyeeettt malah tambah "petakilan". Kowe seneng banget entuk Ria to? Emang heran aku sama Ria. Bayangin aja. Aku lebih kenal lama sama si yuk. Waktu di Harjak, sering makan bareng. Ketawa bareng, nangis bareng. Goncengan. Kadang-kadang liputan bareng. Ning atiku gak nyetrum sama si yuk ini.
E...alah dalah...Ria kok malah kecantol!!
Yuuuuuuuukkkk, mana naskah Lengangnya. Lunch....! Lunch....! Inget, deadline. Nih Pak Kuhon tar marah....... ........


Tanggapan Taufik:
WIIICH SI YUK BISA KAWIN JUGA AKHIRNYA
PASTI DECH GW DATANG SAMA KELUARGA, APALAGI SELAIN NGELIATIN YUK N RIA DI PELAMINAN, KITE BISA REUNIAN NICH. JADI KANGEN SAMA TEMEN2 HARJAK NICH. MOGA AJA, LAGI GAK ADA TARUNA.
BTW, SEKEDAR NGINGETIN AJA BUAT YUK. ITU TUCH, KALAU LAGI MALAM PERTAMA, JANGAN LUPA DILEPAS KACAMATANYA LOCH. NTAR SALAH MENCET TOMBOL LAGI, HE HE HE.

SALAM DARI TAUFIK

Nikahan Adat Nasional

by YUK


Salam Harjak,


Pak Albert Kuhon,
Terimakasih atas ditindak lanjutinya surat undangan mantenan saya melawan Ria di milis kita. Semoga amal baik dan ibadah Om Kuhon diterima di sisi nya (istrinya maksudnya), hehehehe....

Pak Kuhon, saya kebetulan tidak pakai acara adat-adatan (dulu motor saya suka ngadat iya). Kami pesta bisa saja, nasional istilahnya, padahal saya juga bingung kok dibilang nasional, wong pas nikahan saya ga ada acara nyanyi garuda pancasila dan indonesia raya kok... mbuh lah ..

Kalo saya sama Ria memang niat pingin punya surat nikah pak, lumayan buat dipamerin di hari tua, siapa tau jadi barang langka dan jadi colectable items Muri..

Btw, sekarang buka ponpes Al Kuhn ya pak?

Untuk rekan2 senior di Harian Jayakarta, yang ingin saling melepas kangen dengan Om Kuhon, monggo rawuh di pesta pernikahan kami. Semoga silaturahmi bisa tercipta dan menjadi ajang saling tegur sapa dengan kami juga, mantan awak Harian Jakarta.

Salam kompak.

========================
Tanggapan Nina:
gahahahaha.. . dasarrrr...

Tapi, pengen liat deh YUK nyanyi Garuda Pancasila atau Indonesia Raya di nikahannya nanti. Niscaya *ceila* bakal diblowup semua media....secara undangannya banyak wartawan... :p

Wah, hebat, Bang AK buka ponpes Al-Kuhn.

hihihihihi.. . :D


Tanggapan Panti:
Iki calon pengantin kok imel-imelan melulu. Seumur hidupku, baru ngeliat calon pengantin 'petakilan' kayak gini!!! Kowe ki dipingit le....dipingit. ....!

Ria suruh pareman, dilulur tiap hari biar piutih dan kinclong. Kalau nggak, tar kalah cantik sama tamunya (baca: PANTI) lo.....

he...he...he

panti


Tanggapan Tio:
Selamet... selamet... selamet

Betul, kata Panti. Yulius juga harus berdandan supaya nggak kalah ganteng sama tamu-tamunya. .... teruma yang dah UBANAN


Wedding Invitation YUK vs RIA (lengkap)

by A. Kuhon



Yuk,

Sesuai dengan perintah Anda, maka saya posting undangan mantenan Anda dengan Ria (salah satu anggota Harjak's Angels). Mantenannya pakai adat Jawa, atau adat mBatak? Kalau adat mBatak, Anda dikasih marga apa, Yuk? Marga-rin, Marga-satwa, atau marga-ra-enthuk- liyane?

Saya tidak pernah jadi bos, makanya sampai sekarang tidak pernah jadi mantan bos. Saya cuma seorang teman, yang kebetulan tahu lebih dulu atau berpengalaman dibanding Anda dan sejumlah teman yang lain.
Saya akan usahakan semampu saya agar bisa hadir di acara pernikahanmu, Yuk & Ria, Sabtu 6 Desember 2008 pukul 19.00 WIB, di Gedung Ditjen Bina Pembangunan Depdagri, Jalan TMP Kalibata No 20, Kalibata, Jaksel.

Bagi teman-teman yang bisa mendownload, silakan mengunduh undangan maupun denah dari Yuk yang saya lampirkan pada email ini. Bagi teman-teman lain, yang punya kemampuan telusur, silakan ikuti navigasi dengan cara klik di Photos atau New Photos lalu cari folder Reporter Angkatan Jadul.

Yuk, apakah undangan Anda ini hanya berlaku bagi teman-teman Harian Jakarta, atau berlaku juga bagi rekan-rekan Harian Jayakarta? Mungkin pernikahan Yuk-Ria ini bisa jadi ajang pertemuan kedua angkatan wartawan (Harian Jayakarta dan Harian Jakarta).

Tentu semua terpulang pada Yuk dan Ria! Selamat ancang-ancang yaaa Yuk! Orang-orang sedang sibuk ngurus perceraian, kok Anda dan Ria malah pengen punya surat kawin.

Rak kleru po?


Salam,
=================================
lampiran tambahan undagannya YUK vs RIA:





Susahnya Bersekolah (part 3)

by A. Kuhon

(menanggapi postingan David di "Susahnya Bersekolah, Part.2")



David,

Kayaknya lebih susah sekolah di pesantren Al Kuhn. Murid-muridnya cuma sedikit dan dalam 2-3 minggu harus jadi jurnalis andal yang bertugas mengubah dunia. Gurunya sok pintar. Fasilitas terbatas. Insentif dan honor sangat kecil. Mbelgedes banget kan?

Masih ingat nggak Vid, zaman nggak enak di tahun 1989. Pukul 06 harus ke kantor, pulang dari kantor pukul 02 dinihari. Sekolah harus diselesaikan, kalau nggak selesai dalam waktu enam bulan bakal dipecat. Line telepon cuma satu ekstension, sambungan dari Pembaruan. Mesin tulis enam unit, semua barang bekas. Komputer buat redaksi cuma satu, milik pribadi redpel. Begitu pulang liputan, para reporter ngantre kayak transmigran nunggu giliran dapat jatah beras.

Selain ngajarin jurnalisme, redpelnya masih harus ngajarin komputer kepada para redaktur yang lebih senior dan pada bandel karena sudah terbiasa pakai mesin tulis. Akhirnya mereka baru mau belajar setelah office boy Parlin (yang diam-diam aku ajarin setiap malam) ternyata jago WS3. Disket pun harus berhemat, karena jatah sangat terbatas.
Sekarang disket sudah hanyut diterjang CD dan DVD. Kedua jenis perangkat penyimpanan optikal tersebut pun sudah sekarat karena dihantam flashdisk. Komputerku jenis AT yang dulu paling canggih di kantor Harian Jayakarta, sekarang mungkin dikiloin pun tidak laku. Cepat sekali waktu berlalu, dan teknologi bersilih.

Padahal, beberapa di antara kita masih juga seperti dulu. Konsisten pada idealisme. Kadang-kadang saya berpikir, apakah saya masih berdakwah tentang hal-hal yang benar atau idealisme yang saya anut sudah tidak layak lagi jadi acuan pada zaman sekarang ini. Walaupun saya selalu sangat yakin, pada zaman mana pun etika profesi semestinya tetap dijunjung.
Sihol yang dulu ktia rekrut sebagai koresponden di Bandung, belakangan jadi redaktur di Pembaruan dan sempat kaya raya walau akhirnya tersandung masalah kotak suara KPU. Sekarang Sihol sudah aktif lagi di dunia bebas. Andreas Harsono yang kita rekrut jadi koresponden di Salatiga, sekarang mengibarkan bendera jurnalisme sastrawi. Andreas Piatu masih meliput di Balaikota, sedang Andreas yang lain yakni Andreas Ambesa kini di Indosiar dan menjadi ketua organisasi corporate secretary.

Kalau ingatan sudah berkelana seperti ini, muncul pertanyaan: kapan kita bisa reuni yaaaa?

Wassalam

Susahnya Bersekolah (part 2)

by David Ryan (tanggapan dari posting sebelumnya)

Indonesia ini timpang. Ada yang pergi bersekolah berpeluh, ada yang adem kena ac.

Sekadar tambahan.... ...
saya pernah berkunjung ke pulo breh, propinsi NAD dan melihat kehidupan disana. Dipulau tersebut sudah terbangun 3 SD yang muridnya hanya 20an murid. SMP hanya ada 1 sekolah saja dengan murid belasan siswa. SMA tidak ada. Gurunya? pulang pergi dari pulau disebelahnya, pulo aceh, dengan menggunakan perahu. Yang lucu ada 1 SD hanya punya murid 3 anak dan dengan fasilitas yang berlebihpun mereka malas sekolah, lebih baik menangkap ikan di laut.

Saya membayangkan siswa di Cina yang bersekolah lewat tebing karena fasilitas yang tidak ada di tempat mereka. Luar biasa!! bandingkan dengan dengan anak2 pulo.

salam,
davidryan

Susahnya Bersekolah

by A. Kuhon




Tahun 1970an, selama beberapa bulan saya harus berjalan kaki sekitar 40 menit (dari Pojok Beteng Wetan) guna mencapai sekolah (STMA) di Semaki di Yogya. Ketika itu saya dan beberapa teman tinggal di rumah berlantai tanah dan berdinding bilik bambu, tanpa listrik. Kemudian saya pindah kos ke Gunungketur, Pakualaman, Gendeng, Karangwaru, Lempuyangan dan banyak tempat lain di Yogya. Saya juga sempat melihat bagaimana para murid di Kelurahan Kelor, Kecamatan Karangmojo (Gunungkidul) bersusah payah bersekolah.
Tahun 1980an saya pernah melihat bocah di Timika, Pegunungan Jayawijaya, yang harus menempuh jalan setapak bertelanjang kaki, demi bersekolah. Dalam perjalanan hidup sebagai pengelana, saya sempat melihat betapa anak-anak kaum transmigran di pedalaman Kalimantan (Kaltim, Kalsel dan Kalbar), Sumatera (Sumsel, Bengkulu dan Lampung) maupun wilayah lain, mengalami kesulitan menggapai pendidikan.
Laskar pelangi, film yang belum lama ini diputar, juga berkisah tentang kondisi pendidikan yang memprihatinkan di Pulau Bangka-Belitung. Saya juga pernah melihat betapa banyak guru di Indonesia yang belum bisa mendapatkan imbalan memadai, apalagi tercukupi, dari profesinya. Namun, kisah di bawah ini cukup mengharukan. Ternyata, bukan cuma Indonesia yang punya nestapa pendidikan.
Padahal, pendidikan adalah salah satu celah buat menerobos olmbak kemiskinan!

===================================================
Artikel:

Sekolah Paling Berbahaya di Dunia

Murid di bagian terpencil di China harus menghadapi jalan yang mengerikan hanya untuk menghadiri sekolah, jalanan ini harus melintasi tebing yang tinggi dan curam, dengan jalur yang sangat sempit.



Sekolah yang terletak di desa Gulu, provinsi Sichuan, berada dilereng dan untuk mendaki ke arah sekolah membutuhkan waktu sekitar 5 jam. Sekolah dasar ini hanya memiliki satu guru dan sudah mengajar di sana selama 26 tahun. Penduduk mengakui bahwa sekolah itu berbahaya bagi para murid, kareana lebar jalan setapak yang harus dilalui oleh para murid hanyalah sekiar setengah meter saja, dan ketinggiannya cukup menakutkan.

Sekolah yang ada memiliki lima gedung beton dan lapangan dengan papan bola basket, yang dibuat dari tiang kayu dan papan rusak. Tapi sampai sekarang murid2 dilarang melakukan tembakan ke arah tiang, karena jika meleset dan bolanya jatuh ke jurang, dibutuhkan waktu setengah hari buat mengambil bola itu.



Shen Qijun, 45, guru yang ada, berkali-kali ingin berhenti dari pekerjaan yang sudah dijalaninya selama 26 tahun ini. Tapi berkali-kali pula para penduduk menahannya, karena tidak ada orang lain yang mau mengajar anak2 di desa itu.

Shen mengajar Matematika dan Bahasa Cina, tapi kata Shen, selama 26 tahun ini hanya ada dua murid yang berhasil ke universitas, dan masalahnya hanya karena isolasi. Salah seorang relawan yang pernah mengajar di sekolah itu mengatakan: "Para murid bekerja keras sekali, tapi sama sekali mereka tidak pernah melihat komputer, mobil atau bahkan toilet duduk."

YUK vs RIA

by YUK

Dear Mod,

Ini saya posting undangan pernikahan saya melawan ria. Mohon bantu disosilaisasikan ya Pak Kuhon.. Oiya, semua wajib dateng, GA ADA YANG PAKE ALASAN DETLEN...!!! !! (termasuk Om Kuhon yah...) kekekekekeekee. ..
Thnx ma pren, you guys rocks!! the best!!!





Tanggapan Nina:
Horeeee.. akhirnya YUK dan RIA jadiaaaan.. eh, maksudnya, bakal jadi suami istri! hehehe..
Tumben PReWed-nya serius?? Padahal aku expect yang agak2 nyeleneh gitu.. :-p
Sukses ya! :D

Tanggapan Panti:
Aih, aih anakku udah gede....akhirnya mau kawin. Pinter ya, milihnya pas musim ujan. hik..hik..hik

Tanggapan Iwan SJ:
Lho?...kok ada bang deddy dores di situ?...hehehehe. ...becanda pren...pisss. ..yo wis. selamet yeee...ntar gw dtg deh.

Tanggapan Choki:
Jaga stamina, Yuk. Hahahahahahahaha...

Tanggapan Herwan:
ikut mbungah ni..
Kirain dulu pacaran sama Ria..ternyata mo nikah..hehehehe. .
selamat ya buat kalian berdua..
kapan hari bahagianya?


---- jawaban YUK:
Herwan, apa kabar pak?

Wahhhh, sampeyan iki ngilang lapo le,,,
hehehehehe.. .
Wis duwe anak piro Wan?
Kelingan jaman biyen ning Lenggang yo?
Huehehehehe. ..
Salam kagem Anggi (lali sopo bojomu jenenge?)

Undangan ipun sampun diposting di harjak milis. Monggo diunduh mawon.. HAri bahagia 6 desember 2008 jam 19 malam sampe kelar, kudu dateng ya tole, dijak anak karo bojone... sukses... Iwan saiki wis dadi pemred, harian SINYO (alias Gusinya Menyonyo.. hehehe)

PS : kalao butuh denah jelas, ini saya sertakan biar kawan2 ga pada nyasar, masa wartawan nyasar, ntar dimarahin Pak Kuho kalo nyasar dan ga dapet berita.. hihihihi.. jadi inget dulu banyak kawan berguguran selama masa training yah... Crooot..!! Stamina terjaga Bung Choky! Girassss...! !!!

Bad Guy, Good Guy

by Ririen


saya sama sekali tidak heran dengan kejadian di acara dengan pendapat itu.
having lots of experience dealing with them (the so called "anggota dewan yang terhormat") in my working life, I have understood about their BAD behavior...

Bahkan salah satu "anggota terhormat" itu (seorang wanita), pernah menghardik seorang rekan kerja saya dengan mengatakan bahwa anggota DPR itu adalah manusia setengah dewa......oalah, jadi rupanya anggota DPR itu masih keturunannya Hercules toh!?

apalagi kalo mereka lagi kunjungan keluar negeri, lagaknya itu, Masya Allah....

udah nggak kerja apa2, minta dilayani layaknya raja....

tidak perlu saya ceritakan semua tentang buruknya perilaku para wakil rakyat kita, karena akan membuat email ini sangat panjang.

meskipun begitu, gak semua anggota DPR parah kok. masih ada beberapa juga kok anggota DPR yang kelakuannnya baik2 dan menghargai orang lain, dan kebanyakan mereka adalah yang udah senior dan berpengalaman.


=============================
Catatan:
Email ini menanggapi Surat Terbuka (ttg Dengar Pendapat RUU Pornografi di Yogya) beberapa waktu lalu, yang diposting ke milis..

Dengan hati pedih saya membaca email ini dari milis Jurnal Perempuan, walaupun saya orang jawa saya ikut tertusuk dengan perkataan anggota dewan yang terhormat. Saya tidak minta untuk dilahirkan jadi orang jawa, maka saya tidak berhak mendakwa bahwa suku lain lebih rendah atau merasa lebih tinggi dari yang lain. Beginilah kualitas anggota legislatif yang menjadi Ketua PANSUS.. Tragis.

============ ========= ========= ========= ========= ========= =====

Yogyakarta, 16 Oktober 2008
Kepada kawan-kawanku Bangsa Indonesia
Kawan,
Senin, 13 Oktober 2008 kemarin, saya dan teman-teman Forum Yogyakarta untuk Keberagaman (YuK!) mengikuti acara `Dengar Pendapat dalam Rangka Uji Publik RUU Pornografi'. Acara yang diadakan oleh Pansus RUU Pornografi dari DPR berlangsung di Gedung Pracimosono, Kompleks Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketua Pansus RUU Pornografi, Balkan Kaplale, juga datang ke acara itu.
Sekitar enam puluh orang —pro (mayoritas) maupun kontra— hadir sebagai peserta forum. Dalam sesi dengar pendapat pertama, enam peserta dipilih untuk bicara. Acara sudah berlangsung sekitar 1 jam saat seorang kawan dari Papua, Albert, ditunjuk moderator untuk menyampaikan pendapat.
Albert datang mewakili 3000 mahasiswa Papua di Jogja, dan telah meminta ijin pada dewan adat dan tokoh masyarakat Papua untuk mewakili warga Papua dalam menyampaikan aspirasi.. Di forum, ia mengusulkan agar RUU Pornografi tidak disahkan. Sebab, RUUP tidak memberi ruang bagi kaum minoritas, dan membuat Negara Indonesia seolah-olah hanya milik sekelompok orang. Jika RUUP disahkan, lebih baik Papua melepaskan diri saja, karena tidak diperlakukan adil.
Saat giliran Pansus bicara, Balkan Kaplale langsung menanggapi pernyataan Albert. Balkan menyapa Albert dengan sebutan "Adinda" dan berkata: "Jangan begitu dong ah..overdosis. .tak usah ngapain keluar dari NKRI. Timor-timur aja perdana menterinya kemaren mengadu ke Komisi 10, nangis-nangis, rakyatnya miskin sekarang. Betul, belajarlah ke Ambon, saya kebetulan dari Saparua loh. Kalau mendengar begini tersinggung! Belajar baik-baik dari Jawa! (diucapkan dengan kencang dan bernada bentakan)"
Balkan juga berkata "Belajarlah baik-baik! Kalau perlu kau ambil orang Solo supaya perbaikan keturunan! (membentak)" Sebagian besar peserta forum langsung tertawa mendengar kalimat itu. Namun kemudian beberapa peserta lain dan para wartawan berteriak, "Rasis! DPR Rasis!!"
Balkan: "Diam dulu nanti kita kasih kesempatan bicara, sampai malam kita di sini! Diam dulu! Ini kan hak Ketua DPR juga dong, Ketua Pansus!"
***
"Belajar baik-baik dari Jawa! Kalau perlu kau ambil orang Solo supaya perbaikan keturunan!"
Kawan,
Hati saya sakit sekali saat mendengar perkataan Balkan Sang Anggota DPR sekaligus Ketua Pansus RUUP.. Padahal kata-kata itu tidak ditujukan pada saya. Saya bukan orang Papua. Saya tak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Albert dan kawan-kawan lain dari Papua mendengar ungkapan Balkan yang bernada kasar dan isinya jelas menghina itu. Betapa pedihnya!

Yang membuat hati saya lebih sakit lagi, sebagian besar peserta forum yang mayoritas dari etnis Jawa, langsung tertawa saat mendengar ucapan Balkan. Mengapa masih bisa tertawa saat ada saudara kita yang dihina? Apa karena Balkan meninggikan etnis Jawa, lantas kita layak tertawa bahagia?
Kita adalah saudara. Sabang sampai Merauke. Kita: orang Batak, Jawa, Sunda, Betawi, Madura, Dayak, Bugis, Flores, Papua, dan lain-lain; telah berikrar untuk bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kita setara. Tidak ada satu suku atau etnis pun yang tebih tinggi derajatnya dari yang lain. Tidak ada pula yang lebih tidak beradab. Sebagai kesatuan, mestinya kita bersedih jika saudara kita direndahkan karena etnisnya berbeda dengan kita. Bukan tertawa. Mestinya rasa empati dan solidaritas kita tumbuh. Mestinya kita menggugat hinaan itu! Bukan malah ikut tertawa menghina.
Saya kecewa, Kawan.
Perbedaan etnis, suku, budaya bukanlah perkara salah-benar. Tiap kelompok harusnya menyadari bahwa sejak awal Indonesia memang beragam. Merasa diri lebih tinggi derajatnya dari kelompok lain hanya akan menimbulkan konflik. Yang merasa diri paling benar memaksakan keyakinan kelompoknya pada orang lain. Yang merasa diri beradab menghujat kelompok yang dianggap tidak beradab.
Kawan,
Menurut saya perbedaan adalah perkara bagaimana kita berbesar hati untuk menerima dan menghargai orang atau kelompok yang tidak sama dengan kita. Andai kita semua mau membuka hati terhadap perbedaan dan memiliki toleransi, saya yakin tak seorang pun akan tertawa saat mendengar ucapan Balkan tadi.
***

"Belajar baik-baik dari Jawa! Kalau perlu kau ambil orang Solo supaya perbaikan keturunan!"


—"DPR Rasis!"
"Diam dulu! Ini kan hak Ketua DPR juga dong, Ketua Pansus!"
Kawan-kawanku,
Saya heran sekali dengan kalimat terakhir itu. Apa yang Balkan maksud dengan hak ketua DPR dan hak Ketua Pansus? Hak untuk menghina orang lain? Saya rasa, tidak ada orang yang memiliki otoritas menghina orang lain, sekalipun ia pejabat pemerintahan. Kata-kata Balkan terkesan sangat otoriter, seolah-olah ia berhak melakukan apapun sebab ia adalah anggota DPR.
Menurut Pansus RUU Pornografi dan pihak yang setuju terhadap disahkannya RUUP, RUU ini tidak akan menimbulkan disintegrasi bangsa. Alasan mereka, RUU ini tidak diskriminatif. RUUP mengakomodir kepentingan seni dan budaya, adat istiadat, dan ritual tradisional.
Mari kita gugat pernyataan itu, kawan! Benarkah RUU ini mengakomodir semua itu dan tidak diskriminatif? Pertanyaan ini sangat patut dilayangkan dan dijadikan bahan pertimbangan, sebab ternyata Balkan Kaplale, anggota DPR RI dan ketua Pansus yang menyusun RUUP adalah seseorang yang Rasis!
Kawan,
Seseorang yang sudah tidak adil sejak dalam pikirannya tidak akan bisa bertindak adil dalam perbuatannya. Perkataan Balkan Kaplale pada Albert yang rasis dan menghina menunjukkan pikirannya yang tidak adil terhadap saudara-saudara kita orang Papua. Maka saya berani berkata, RUUP yang diketuai oleh orang rasis dan tidak adil itu tidak layak disahkan!
Dengan cinta pada bangsa dan Negara Indonesia,

Maria Listuhayu.
* saya memiliki rekaman rapat dengar pendapat umum ini.
** tulisan ini akan dikirim ke media sebagai surat terbuka.

Welcome to The Meeting Point

Selamat datang di The Meeting Point..

Blog ini akan berisi cerita di balik sebuah media yang pernah meramaikan belantara pers Indonesia, khususnya di Jakarta.

Ya, ini adalah kisah kasih para jurnalis yang pernah menorehkan prestasinya di Harian Jakarta (d/h Jayakarta), yang sayangnya gulung tikar pada medio Agustus 2005. Meski begitu, kenangan indah selama berjuang jungkir-balik di Harian Jakarta, terus melekat di benak kami. Dan semua terlontar secara jujur melalui mailing list kami [HARJAK at yahoogroups. com].

Demikian indahnya cerita yang diungkap para pujangga kuli tinta di milis tersebut, menggugah saya untuk berbagi kepada dunia melalui blog kecil ini. Selamat membaca..

Search This Blog