The Meeting Point

Stories Behind the Making of Newspaper

Cerita Kepompong dalam Tong (Part 1)

by Oitnarpus :)


Cerita Nendang Tong

Kisah saya nendang tong perlu diluruskan (disempurnakan) , biar informasinya akurat..he.. he..

Awalnya, saya tidak ingin nendang tong sampah. Saya cuma melempar koran ke arah PP, tetapi meleset. Koran melayang ke arah white board. Penasaran... saya bangkit ingin meninju-nya. Tetapi, dia sudah kabur ke balik pintu.

Saya kejar ke ruangannya. Tetapi, dia sudah turun dari lantai dua. Karena masih kesal, saya tendang tong sampah sampai melayang ke pintu ruangan PP. Sang sekretaris, Lusi, ketakutan setengah mati. Saat itu juga, dia minta mundur kerja.

Beberapa menit kemudian, big boss Mr David menelpon saya. Dia bilang, "Tio... lu mau jadi jagoan. Di kantor gua nggak ada preman.... "

Rupanya sang PP lapor ke big boss. Belakangan saya ketahui, dia merasa mendapat ancaman fisik...

Tiga hari berikutnya, ada rapat lengkap... "Soal nendang tong sampah" juga dibahas. Tetapi ternyata, big boss "bisa memahami" tindakan saya.... Mengapa? Mungkin alasannya bisa minta cerita lengkap dari Panti dan kawan-kawan yang hadir di ruangan "bersejarah itu".


Salam
========================
Tanggapan AK:

Hua ha ha ha....
Ternyata "Hatta Rajasa" bisa ngamuk juga, membela kepentingan brayat-brayat proletar yang terombang-ambing. Maksudnya PP kuwi sopo, Kang? Pemuda Pancasila? Kalo Pemuda Pancasila kan teman-teman kang Tio juga. Hua haaa haaa......
Memang betul, di kantor itu tidak ada preman. Apa lagi ketika Tio nendang kepompong dalam tong. Premannya kan cuma Albert Kuhon dan waktu itu dia sudah pergi.... hua ha ha ha.....

Bagai kepompoooooong. .......


Tanggapan Nina:
Hhehehe.. saya masih inget kejadian ini, hanya saja nggak tau persis ceritanya gimana.
Begitu sampe ke kantor, semua orang berwajah tegang. Saya lupa siapa yang bilang (pokoknya cewek) memberi tahu kami--yang bengong-bengong bingung di luar kantor bahwa Pak Tio "ribut" sama someone lalu menendang tong sampah.

Waktu itu saya (dan Ririen) takjub. Sepanjang kenal Pak Tio di Harjak, saya yakin Pak Tio orang yang sangat bisa mengendalikan diri, kok hari itu bisa "mengamuk"? hihihi.. hayo dong cerita lagiiii.. kan tiada asap tanpa api.. :D


Tanggapan Panti:
Aku cuma ngeliatnya gini, Pak Tio gak penampilannya aja mirip seleb (Hatta Radjasa). Tapi juga punya bakat akting kayak Nicolas Cage (Con Air). Saat nendang, menjiwai banget...ha. ..ha....ha

0 comments:

Welcome to The Meeting Point

Selamat datang di The Meeting Point..

Blog ini akan berisi cerita di balik sebuah media yang pernah meramaikan belantara pers Indonesia, khususnya di Jakarta.

Ya, ini adalah kisah kasih para jurnalis yang pernah menorehkan prestasinya di Harian Jakarta (d/h Jayakarta), yang sayangnya gulung tikar pada medio Agustus 2005. Meski begitu, kenangan indah selama berjuang jungkir-balik di Harian Jakarta, terus melekat di benak kami. Dan semua terlontar secara jujur melalui mailing list kami [HARJAK at yahoogroups. com].

Demikian indahnya cerita yang diungkap para pujangga kuli tinta di milis tersebut, menggugah saya untuk berbagi kepada dunia melalui blog kecil ini. Selamat membaca..

Search This Blog