Tinggal dua hari lagi status saya sebagai Lajang. Sebagai Bujangan. Setelah itu, saya membuka lembaran baru dari hidup yang Gusti Allah titipkan ini dengan status Suami dari Febria Barita Silaen. Saya akhirnya punya Mertua. Saya akhirnya punya Istri. Lebih penting lagi, mengutip kata Om Kuhon, saya punya selembar Surat Nikah... Buat yang sudah menikah, tentu bukan barang baru dengan status ini. Tiap hari ketemu pasangan, arep turu, tangi turu, bar adhus, mangan, ngombe, masak ning pawon sampe kenthu bareng sama pasangan. Buat saya, ini baru, pengalaman yang rasanya menantang untuk dicoba, dicicipi dan dinikmati. Ga tau kalau rasanya nanti kayak apa. Saya dan calon istri sih sudah sepakat, telen saja, kalaupun rasanya nanti tidak seenak bayangan kita.
Temans, kami mohon doa restu. Ini hanya sebuah lembaran baru yang akan kami lewati bersama. Ini pastinya jadi pengalaman yang tidak bisa dihapus dengan apapun juga. Tapi kami memang butuh dukungan doa kalian dan juga segunung keberanian untuk melangkah. Tanpa teman, sahabat, dan keluarga dekat, rasanya hal itu sulit dilakukan. Kami siap melangkah ke sana. Pernikahan. Keluarga. Dan pada akhirnya kembali ke Sang Khalik dengan cerita agung dan gembira soal anak cucu yang dititipkan Nya. Sebuah cerita yang kami harap berakhir manis, tidak terlalu manis namun juga tidak hambar. Mak nyuss..!!!
(I Korintus 13:13)
======================
Tanggapan Bang AK:
Salam mBelgedes!
======================
Jawaban Yulius:
Piss la yauuuuw....
======================
Om Tio Nimbrung:
Bos Kuhon n Dinda Yuk....
Nikah lintas provinsi... lintas pulau... lintas adat...
Saya yang Jawa sempat menjadi "Datuk Maringgih" selama sehari.
Sebelum menikah diberi gelar "Sutan...... "
Yuk... Nikmati dan resapi acara pernikahan yang "serba lintas".
Sebab, kalo sudah ngamar, semuanya nggak ada lagi... kecuali "begituan... . "
Thx...... Sang Penendang TONG
======================
Tanggapan Nina:
setelah ini tayang, Yulius (dan Ria) pun sudah tidak perjaka lagi.. :D
======================
Tanggapan Bang AK:
Yuk,
Ada satu tambahan yang perlu dicamkan sejak sekarang. Perkawinan bukan langkah buat menyelesaikan suatu masalah, melainkan awal dari banyak masalah baru!
Kapan arep dibatake? Kan kudu dikasih marga, pake upacara dulu. Dititipkan pada marga lain, lalu lamaran coro mbatak baru boleh nggandeng Ria. Emangnya gampang orang Jawa ngawinin orang batak?
Salam mBelgedes!
======================
Jawaban Yulius:
Om Kuhon,
Terimakasih buat wejangan singkatnya.. Seperti yang sudah kami katakan sebelumnya, pernikahan saya dan Ria memang dilakukan dengan cara-cara nasionalis, tidak komunis apalagi atheis, dan sangat tidak ekonomis! Sayang memang kami tidak ada acara kerek bendera dan mengheningkan cipto untuk mengafdolkan rasa nasionalis di sana. Kami beruntung diterima di kedua belah pihak keluarga besar tanpa banyak persoalan berarti, semua bisa diseleseken dengan seksama. Ternyata bukan lagi seperti jaman Om Jabrik dulu yang kalau nikah lintas propinsi kudu siapkan banyak hal, material sampe prentilan-prentilan lainnya. Jaman sekarang sudah maju Om, kemajuan pula yang membuat pernikahan lintas propinsi seperti saya menjadi hal yang tidak perlu diperumit, dipersempit, dipersulit seperti angin keluar dari lubang silit... hehehehe... Jadi tidak masalah kalau pria jawa mengawini gadis batak, monggo kerso, yang penting setia Om, doakan kami langgeng ya...
Seperti Om Kuhon tulis sebelumnya, permasalahan selalu ada sejak manungso dilahirken, menikah juga mungkin awal banyak persoalan baru, tapi ya itu tadi Om, kami sepakat mencicipinya dan menelannya meski ga tau seperti apa rasanya dan akibatnya. Keloloden? Keselek? Mesem-mesem naham kecut asem? atau malah kecap-kecap keenakan sambil merem melek? Insya Owloh kami siyaaaaap... .!!! Doakan kami berhasil yaaaa penontonnn.. ..!!! Ciayoooo...
Om Kuhon, saya kok dari dulu penasaran dengan keluarga Om ya? Saya sih pingin kalau nanti Om bawa buntut dan nyonya ke resepsi saya, biar sekalian teman-teman eks HJ dan Jayakarta yg datang bisa bersilaturahmi dengan mereka. Jangan takut kehabisan makanan Om, saya sudah siapkan dengan cukup, asal jangan pada bawa ransel untuk bungkus aja ya...
Untuk teman-teman semua, kami tunggu kedatangannya di Kalibata. Bukan di pabrik sepatunya, bukan di makam pahlawannya, tapi di gedung pinggir rel keretanya, namanya Ditjen Disbangda Depdagri yaaaaa... Rekan-rekan senior di Jayakarta, kami dengan ini juga mengundang untuk boleh bersua dengan teman-teman lain di sana, monggo silahkan, kami menyambut semua dengan tangan terbuka...
Om Kuhon, saya mohon maaf sebelumnya, saya melanggar apa yang telah Om Kuhon ajarkan sejak di pesantren Al Kuhn dulu.. Om selalu bilang untuk proud as a journalist, tolak amplop! Tapi tanggal 6 nanti kayaknya saya ga bisa tolak amplop dan uang kerohiman dari para tamu yang datang... Maaf ya Om, tapi malam itu dari jam 7-9 malam saya berenti dulu jadi wartawan... Saya cuma mau jadi suamibuat istri saya aja ah.. hehehehehe.. .
======================
Om Tio Nimbrung:
Bos Kuhon n Dinda Yuk....
Nikah lintas provinsi... lintas pulau... lintas adat...
Saya yang Jawa sempat menjadi "Datuk Maringgih" selama sehari.
Sebelum menikah diberi gelar "Sutan...... "
Yuk... Nikmati dan resapi acara pernikahan yang "serba lintas".
Sebab, kalo sudah ngamar, semuanya nggak ada lagi... kecuali "begituan... . "
Thx...... Sang Penendang TONG
======================
Tanggapan Nina:
setelah ini tayang, Yulius (dan Ria) pun sudah tidak perjaka lagi.. :D

0 comments:
Post a Comment