The Meeting Point

Stories Behind the Making of Newspaper

Jayakarta dan Jakarta (Part 2)

by Yon Moeis



Sebenarnya saya ingin marah kepada David. Kami sudah janjian untuk bertemu Albert Kuhon. Tapi kemarahan yang sudah mendidih ini seketika menjadi dingin setelah membaca tulisan di bawah ini, tulisan yang, bisa disebut sebagai "kembali sejenak ke masa lalu".

Teman-teman, ini mungkin tidak melengkapi. Tapi hanya sekedar menambah apa yang sudah ditulis Albert Kuhon (selanjutnya AK), siapa tahu, teman-teman (juga teman-teman dari Harian Jakarta) ada yang menambah.

AK adalah orang hebat. Kami pertama kali bertemu di Jl. Dewi Sartika, kantor Jayakarta, yang pelataran parkirnya lebih besar dari ruang kantornya, pada akhir Agustus 1989 sebelum koran ini terbit. Mejanya berada di dekat pintu keluar ke belakang (jalan tembus ke halaman parkir Suara Pembaruan), dan dekat pintu ruang rapat. Ya, dia orang hebat dan harus saya katakan karena ada ilmu-ilmu yang saya "colong" dari dirinya. Ilmu-ilmu AK yang sebelumnya tidak saya dapat di Media Indonesia (gedung di Gondangdia itu, dahulu, penuh dengan teror).

Beruntung saya tidak berada di bawah AK. Saya, juga kami di Jayakarta, hampir setiap hari melihat ada air mata yang tumpah, ada caci maki, ada teriakan, ada kemarahan, ada pula yang pergi dan tak pernah kembali. Semua ada dan saya pernah melihat langsung bagaimana salah satu calon reporter (maaf saya sebut calon), "terkencing- kencing" dibebesin AK di ruang rapat.

Ini semua terdengar sangat menyebalkan. Tapi, saya melihat aksi-aksi AK ini dari sisi yang lain. Saya melihat teman-teman yang bertahan (di, ds, hp, ss, dan beberapa nama) bukan karena tidak merasakan apa yang kami sebut sebagai pelajaran "Ala AK". Rasanya, hampir semua, tak terkecuali, pernah merasakan damprat AK.

Ini, yang saya sebut ilmu AK yang saya colong itu. Kita memang tak bisa hidup sendiri. Pekerjaan ini adalah pekerjaan kolektif. Bahwa AK adalah komandan, itu harus dihargai. Dia pasti ingin mencetak calon-calon reporter itu menjadi reporter andal, tidak cengeng, tahan banting, loyal, mampu bekerja cepat dalam tekanan (apapun bentuknya). Dia tak ingin, nantinya, wartawan Jayakarta menjadi wartawan tempe (saya kembali menyinggung ini dengan A. Lukman, mantan wartawan Tempo, ketika dia mampir ke Koran Tempo di Velbak, beberapa waktu lalu).

AK memang orang hebat. Saya mendengar nama ini ketika dia masih berada di Kompas dan meninggalkan Pal Merah hanya karena dia tak mau meminta maaf kepada JO. Sebuah sikap yang mungkin tidak kita miliki. Saya juga sedikit mendengar AK ketika dia memperdalam bahasa Inggrisnya di EEC di dekat Slipi, dari seseorang yang kemudian menjadi istri saya. AK, katanya, orangnya penuh humor, dan suka meramal orang.

Saya juga belajar apa yang dia tulis untuk Jayakarta. Salah satu tulisan panjangnnya (berseri) adalah tentang Bank Rakyat Indonesia, tulisan yang dalam, tajam, dan berdaging. Sebuah reportase yang cantik.

Teman-teman, suka atau tidak suka (lepas siapa AK dahulu), dia harus kita akui sebagai orang hebat, orang yang bisa menjadi inspirasi ketika teman-teman di Jayakarta, juga Harian Jakarta, kini bertebaran dimana-mana.

Bang Kuhon, salam hangat. Wajah Abang yang saya lihat di meeting-point, jauh berbeda, terlihat sejuk ...

yon moeis
www.yonmoeis. wordpress. com
(tio, apa khabar, sehat-sehatkan)

=========================
Tanggapan David:
maap-maap seribu maap bos....ketemuan ama si abang kagak sengaja..dadakan bos yon...maap ya...
satu yang gw salut dari bapak jabrik...blak2an. ..dan ampe sekarang masih begitu tuh...tabik- tabik deh buat albert kuhon.
gw inget pertama kali dateng ketemu jabrik di ktr yang kecil n kayak koran kgk ada masa depannya...pakaian rapih bawa tas kamera (karena gw masih di harian Terbit sbg fotografer). Pas ditanya bisa jadi wartawan tulis? gw bilang gw coba...eh dia marah n bilang gak ada pake coba2. Bisa apa kagak! Gw bilang bisa, langsung disamber mulai senin besok. Asli gw mpot2an ketemu bos yang geblek.

Peristiwa kedua yang gw msh inget ampe sekarang, waktu disuruh ngeliput ke cibodas puncak, yang tanah sawah mau dibikin lapangan golf atas undangan rekan2 aktivis. Dilokasi gw ditinggalin sendirian ama para aktivis pas ada polisi2 ngebubarin para petani yang demo. Untung gw bisa potret tuh petani yang dipopor ama bedil polisi. AK marah besar ama aktivis2 itu waktu gw lapor. Soalnya gw jiper juga waktu diancem ama polisi2 itu.

Dan itu tidak berubah ternyata ampe sekarang.... sifat ngebela temennya AK. Sayang ada temen2 yang pada kagak nyadar n aji mumpung ama sifat lembeknya si abang itu.

ini cuman intermezo aja yah....yah namanya juga forum temu kangen..

david soepyan


Tanggapan Choki:
Bertemu, bergumul, pergi, kemudian menjadi cerita.
Waktu silih berganti, membentuk zaman: lintas generasi.
Dikenal dan dikenang.

Banyak yang hidup, tapi tak semua menjadi makna.

Dan berkatalah Raja Yedija lewat Amsalnya
"Besi menajamkan besi, orang menajamkan orang"

(Bang Yon, terimakasih untuk sharingnya)

0 comments:

Welcome to The Meeting Point

Selamat datang di The Meeting Point..

Blog ini akan berisi cerita di balik sebuah media yang pernah meramaikan belantara pers Indonesia, khususnya di Jakarta.

Ya, ini adalah kisah kasih para jurnalis yang pernah menorehkan prestasinya di Harian Jakarta (d/h Jayakarta), yang sayangnya gulung tikar pada medio Agustus 2005. Meski begitu, kenangan indah selama berjuang jungkir-balik di Harian Jakarta, terus melekat di benak kami. Dan semua terlontar secara jujur melalui mailing list kami [HARJAK at yahoogroups. com].

Demikian indahnya cerita yang diungkap para pujangga kuli tinta di milis tersebut, menggugah saya untuk berbagi kepada dunia melalui blog kecil ini. Selamat membaca..

Search This Blog