The Meeting Point

Stories Behind the Making of Newspaper

Nikahan Adat Nasional

by YUK


Salam Harjak,


Pak Albert Kuhon,
Terimakasih atas ditindak lanjutinya surat undangan mantenan saya melawan Ria di milis kita. Semoga amal baik dan ibadah Om Kuhon diterima di sisi nya (istrinya maksudnya), hehehehe....

Pak Kuhon, saya kebetulan tidak pakai acara adat-adatan (dulu motor saya suka ngadat iya). Kami pesta bisa saja, nasional istilahnya, padahal saya juga bingung kok dibilang nasional, wong pas nikahan saya ga ada acara nyanyi garuda pancasila dan indonesia raya kok... mbuh lah ..

Kalo saya sama Ria memang niat pingin punya surat nikah pak, lumayan buat dipamerin di hari tua, siapa tau jadi barang langka dan jadi colectable items Muri..

Btw, sekarang buka ponpes Al Kuhn ya pak?

Untuk rekan2 senior di Harian Jayakarta, yang ingin saling melepas kangen dengan Om Kuhon, monggo rawuh di pesta pernikahan kami. Semoga silaturahmi bisa tercipta dan menjadi ajang saling tegur sapa dengan kami juga, mantan awak Harian Jakarta.

Salam kompak.

========================
Tanggapan Nina:
gahahahaha.. . dasarrrr...

Tapi, pengen liat deh YUK nyanyi Garuda Pancasila atau Indonesia Raya di nikahannya nanti. Niscaya *ceila* bakal diblowup semua media....secara undangannya banyak wartawan... :p

Wah, hebat, Bang AK buka ponpes Al-Kuhn.

hihihihihi.. . :D


Tanggapan Panti:
Iki calon pengantin kok imel-imelan melulu. Seumur hidupku, baru ngeliat calon pengantin 'petakilan' kayak gini!!! Kowe ki dipingit le....dipingit. ....!

Ria suruh pareman, dilulur tiap hari biar piutih dan kinclong. Kalau nggak, tar kalah cantik sama tamunya (baca: PANTI) lo.....

he...he...he

panti


Tanggapan Tio:
Selamet... selamet... selamet

Betul, kata Panti. Yulius juga harus berdandan supaya nggak kalah ganteng sama tamu-tamunya. .... teruma yang dah UBANAN


0 comments:

Welcome to The Meeting Point

Selamat datang di The Meeting Point..

Blog ini akan berisi cerita di balik sebuah media yang pernah meramaikan belantara pers Indonesia, khususnya di Jakarta.

Ya, ini adalah kisah kasih para jurnalis yang pernah menorehkan prestasinya di Harian Jakarta (d/h Jayakarta), yang sayangnya gulung tikar pada medio Agustus 2005. Meski begitu, kenangan indah selama berjuang jungkir-balik di Harian Jakarta, terus melekat di benak kami. Dan semua terlontar secara jujur melalui mailing list kami [HARJAK at yahoogroups. com].

Demikian indahnya cerita yang diungkap para pujangga kuli tinta di milis tersebut, menggugah saya untuk berbagi kepada dunia melalui blog kecil ini. Selamat membaca..

Search This Blog