by Choki
(Menanggapi ledekan Mbak Panti soal "takut naik motor")
Kwak...kwak. ..kwak...
Mba Panti...Mba Panti. Masih ingat saja sama tuh cerita. Kalau saiki aku wis jago, Mba.
Ingat Mba ini, jadi ingat seraut wajah teduh di balik jendela kaca gedung bercat kuning telur (Gedung Pariwisata, Kantor Harian Jakarta -Red). Sekali-sekali aku melirik, tatkala masuk atawa ke luar ruangan. Wajah teduh itu - dengan mata yang terus awas - tak henti menatap
tabung komputer.
Letih. Dia ke luar, duduk di sofa lembut di depan pintu kantor. Tak lama dia menyantap semangkok bakso dengan saus yang tak terlampau banyak.
Aku terus menatapnya.. .
Mba Panti...
(Salamku buat Bang Iwang. Kami pernah bersama di Pancoran, meski tak lama)
========================
Jawaban Panti:
Wah jago juga ya bikin tulisan jurnalisme sastrawi.... Gak nyangka benerrrrrr. Cuma kayaknya di Harjak gak ada bakso deh, mungkin mie ayam kaleeeeeee.. ..Trus joknya di Harjak gak lembut, tapi udah bulukan...
AKURASI, INGET AKURASI! Malu dong ama Pak Kuhon.
Yang pasti, aku selalu inget kisah di Harjak---baik yang lucu, manis, pahit, dan rada-rada sepet gitu loch...Termasuk saat terakhir Pak Tio ngamuk, nendang tong sampah....ha. ..ha...ha
Tq
Penasarannya AK:
Nostalgia bersama KEPOMPONG (Part2)
Posted by
Nina Razad
Tuesday, 2 December 2008
Wah Tio nendang tong? Baru dengar tuh ceritanya! Maksud Tio sebetulnya nendang kepompong, tapi waktu itu belum ada kepompong, sehingga yang muncul cuma tong. Maka, ditendanglah tong, sampai mence...tong. Gara-gara nendang tong, Tio jadi kayak Hatta Rajasa.
Ada yang bisa menjelaskan kesalahan tong sampai dia ditendang Tio?
Labels: by Choki , kabar ex HarJakers , reuni , sejarah
0 comments:
Post a Comment