Teman-teman,
Sudut mata saya yang sipit agak basah membaca email David, Yon, Norman, Nina, Coki dll. Saya tidak sangka cukup banyak duka yang menggores, sewaktu kita bersama selama beberapa bulan. Saya sebetulnya tidak berbuat banyak, karena semua karya yang terjaring dan terpublikasikan merupakan jerih-payah teman-teman, yang kemudian kita akui sebagai hasil kerja kolektif.
Sejak saya jadi wartawan Kompas di awal dekade 1980-an, salah satu tekad saya adalah mempertebal barisan wartawan Indonesia yang profesional, andal & beretika. Karena wartawan dengan medianya, menurut saya, merupakan harapan terakhir atau the last resort bagi proses demokratisasi. Ketika kalangan eksekutif terlihat brengsek, biasanya masyarakat mengadu kepada legislatif. Jika legislatif dan eksekutif sama-sama brengsek, maka masyarakat akan meminta pihak judikatif menjatuhkan sanksi kepada pihak eksekutif dan legislatif. Apabila judikatif, legislatif dan eksekutif sudah bobrok semua, maka masyarakat akan minta bantuan pers guna menegakkan demokrasi.
Bangsa ini akan ambruk, jika seandainya kaum pers (wartawan dan medianya) juga ikut bobrok ketika pilar-pilar demokratisasi lainnya sudah runtuh. Jadi, mari kita pahat "Kaidah Umum' di dinding nurani yang paling depan, agar bisa terbaca setiap saat, bahwa kewajiban utama jurnalis adalah membela kepentingan publik dengan berdasarkan pada etika profesi, tanpa harus menjadi miskin atau kehilangan integritas.
Salam,

1 comments:
Pak Kuhon...
percaya bahwa Perubahan (dengan 'P') yang menyeluruh dan atau radikal bisa disumbangsih melalui pers sebagai teropong yg mengawasi langkah pemerintah?
ya, saya rasa demikian adanya...
posting yg bagus
Post a Comment