The Meeting Point

Stories Behind the Making of Newspaper

Pers, Harapan Terakhir Tegakkan Demokrasi

by A. Kuhon




Teman-teman,
Sudut mata saya yang sipit agak basah membaca email David, Yon, Norman, Nina, Coki dll. Saya tidak sangka cukup banyak duka yang menggores, sewaktu kita bersama selama beberapa bulan. Saya sebetulnya tidak berbuat banyak, karena semua karya yang terjaring dan terpublikasikan merupakan jerih-payah teman-teman, yang kemudian kita akui sebagai hasil kerja kolektif.

Sejak saya jadi wartawan Kompas di awal dekade 1980-an, salah satu tekad saya adalah mempertebal barisan wartawan Indonesia yang profesional, andal & beretika. Karena wartawan dengan medianya, menurut saya, merupakan harapan terakhir atau the last resort bagi proses demokratisasi. Ketika kalangan eksekutif terlihat brengsek, biasanya masyarakat mengadu kepada legislatif. Jika legislatif dan eksekutif sama-sama brengsek, maka masyarakat akan meminta pihak judikatif menjatuhkan sanksi kepada pihak eksekutif dan legislatif. Apabila judikatif, legislatif dan eksekutif sudah bobrok semua, maka masyarakat akan minta bantuan pers guna menegakkan demokrasi.

Bangsa ini akan ambruk, jika seandainya kaum pers (wartawan dan medianya) juga ikut bobrok ketika pilar-pilar demokratisasi lainnya sudah runtuh. Jadi, mari kita pahat "Kaidah Umum' di dinding nurani yang paling depan, agar bisa terbaca setiap saat, bahwa kewajiban utama jurnalis adalah membela kepentingan publik dengan berdasarkan pada etika profesi, tanpa harus menjadi miskin atau kehilangan integritas.


Salam,

1 comments:

neaRosette 16 April 2009 at 07:11  

Pak Kuhon...

percaya bahwa Perubahan (dengan 'P') yang menyeluruh dan atau radikal bisa disumbangsih melalui pers sebagai teropong yg mengawasi langkah pemerintah?

ya, saya rasa demikian adanya...

posting yg bagus

Welcome to The Meeting Point

Selamat datang di The Meeting Point..

Blog ini akan berisi cerita di balik sebuah media yang pernah meramaikan belantara pers Indonesia, khususnya di Jakarta.

Ya, ini adalah kisah kasih para jurnalis yang pernah menorehkan prestasinya di Harian Jakarta (d/h Jayakarta), yang sayangnya gulung tikar pada medio Agustus 2005. Meski begitu, kenangan indah selama berjuang jungkir-balik di Harian Jakarta, terus melekat di benak kami. Dan semua terlontar secara jujur melalui mailing list kami [HARJAK at yahoogroups. com].

Demikian indahnya cerita yang diungkap para pujangga kuli tinta di milis tersebut, menggugah saya untuk berbagi kepada dunia melalui blog kecil ini. Selamat membaca..

Search This Blog