(menanggapi postingan David di "Susahnya Bersekolah, Part.2")
David,
David,
Kayaknya lebih susah sekolah di pesantren Al Kuhn. Murid-muridnya cuma sedikit dan dalam 2-3 minggu harus jadi jurnalis andal yang bertugas mengubah dunia. Gurunya sok pintar. Fasilitas terbatas. Insentif dan honor sangat kecil. Mbelgedes banget kan?
Masih ingat nggak Vid, zaman nggak enak di tahun 1989. Pukul 06 harus ke kantor, pulang dari kantor pukul 02 dinihari. Sekolah harus diselesaikan, kalau nggak selesai dalam waktu enam bulan bakal dipecat. Line telepon cuma satu ekstension, sambungan dari Pembaruan. Mesin tulis enam unit, semua barang bekas. Komputer buat redaksi cuma satu, milik pribadi redpel. Begitu pulang liputan, para reporter ngantre kayak transmigran nunggu giliran dapat jatah beras.
Selain ngajarin jurnalisme, redpelnya masih harus ngajarin komputer kepada para redaktur yang lebih senior dan pada bandel karena sudah terbiasa pakai mesin tulis. Akhirnya mereka baru mau belajar setelah office boy Parlin (yang diam-diam aku ajarin setiap malam) ternyata jago WS3. Disket pun harus berhemat, karena jatah sangat terbatas.
Sekarang disket sudah hanyut diterjang CD dan DVD. Kedua jenis perangkat penyimpanan optikal tersebut pun sudah sekarat karena dihantam flashdisk. Komputerku jenis AT yang dulu paling canggih di kantor Harian Jayakarta, sekarang mungkin dikiloin pun tidak laku. Cepat sekali waktu berlalu, dan teknologi bersilih.
Padahal, beberapa di antara kita masih juga seperti dulu. Konsisten pada idealisme. Kadang-kadang saya berpikir, apakah saya masih berdakwah tentang hal-hal yang benar atau idealisme yang saya anut sudah tidak layak lagi jadi acuan pada zaman sekarang ini. Walaupun saya selalu sangat yakin, pada zaman mana pun etika profesi semestinya tetap dijunjung.
Sihol yang dulu ktia rekrut sebagai koresponden di Bandung, belakangan jadi redaktur di Pembaruan dan sempat kaya raya walau akhirnya tersandung masalah kotak suara KPU. Sekarang Sihol sudah aktif lagi di dunia bebas. Andreas Harsono yang kita rekrut jadi koresponden di Salatiga, sekarang mengibarkan bendera jurnalisme sastrawi. Andreas Piatu masih meliput di Balaikota, sedang Andreas yang lain yakni Andreas Ambesa kini di Indosiar dan menjadi ketua organisasi corporate secretary.
Kalau ingatan sudah berkelana seperti ini, muncul pertanyaan: kapan kita bisa reuni yaaaa?
Wassalam

0 comments:
Post a Comment