Tahun 1970an, selama beberapa bulan saya harus berjalan kaki sekitar 40 menit (dari Pojok Beteng Wetan) guna mencapai sekolah (STMA) di Semaki di Yogya. Ketika itu saya dan beberapa teman tinggal di rumah berlantai tanah dan berdinding bilik bambu, tanpa listrik. Kemudian saya pindah kos ke Gunungketur, Pakualaman, Gendeng, Karangwaru, Lempuyangan dan banyak tempat lain di Yogya. Saya juga sempat melihat bagaimana para murid di Kelurahan Kelor, Kecamatan Karangmojo (Gunungkidul) bersusah payah bersekolah.
Tahun 1980an saya pernah melihat bocah di Timika, Pegunungan Jayawijaya, yang harus menempuh jalan setapak bertelanjang kaki, demi bersekolah. Dalam perjalanan hidup sebagai pengelana, saya sempat melihat betapa anak-anak kaum transmigran di pedalaman Kalimantan (Kaltim, Kalsel dan Kalbar), Sumatera (Sumsel, Bengkulu dan Lampung) maupun wilayah lain, mengalami kesulitan menggapai pendidikan.
Laskar pelangi, film yang belum lama ini diputar, juga berkisah tentang kondisi pendidikan yang memprihatinkan di Pulau Bangka-Belitung. Saya juga pernah melihat betapa banyak guru di Indonesia yang belum bisa mendapatkan imbalan memadai, apalagi tercukupi, dari profesinya. Namun, kisah di bawah ini cukup mengharukan. Ternyata, bukan cuma Indonesia yang punya nestapa pendidikan.
Padahal, pendidikan adalah salah satu celah buat menerobos olmbak kemiskinan!
===================================================
Artikel:
Artikel:
Sekolah Paling Berbahaya di Dunia
Murid di bagian terpencil di China harus menghadapi jalan yang mengerikan hanya untuk menghadiri sekolah, jalanan ini harus melintasi tebing yang tinggi dan curam, dengan jalur yang sangat sempit.
Sekolah yang terletak di desa Gulu, provinsi Sichuan, berada dilereng dan untuk mendaki ke arah sekolah membutuhkan waktu sekitar 5 jam. Sekolah dasar ini hanya memiliki satu guru dan sudah mengajar di sana selama 26 tahun. Penduduk mengakui bahwa sekolah itu berbahaya bagi para murid, kareana lebar jalan setapak yang harus dilalui oleh para murid hanyalah sekiar setengah meter saja, dan ketinggiannya cukup menakutkan.
Sekolah yang ada memiliki lima gedung beton dan lapangan dengan papan bola basket, yang dibuat dari tiang kayu dan papan rusak. Tapi sampai sekarang murid2 dilarang melakukan tembakan ke arah tiang, karena jika meleset dan bolanya jatuh ke jurang, dibutuhkan waktu setengah hari buat mengambil bola itu.
Sekolah yang terletak di desa Gulu, provinsi Sichuan, berada dilereng dan untuk mendaki ke arah sekolah membutuhkan waktu sekitar 5 jam. Sekolah dasar ini hanya memiliki satu guru dan sudah mengajar di sana selama 26 tahun. Penduduk mengakui bahwa sekolah itu berbahaya bagi para murid, kareana lebar jalan setapak yang harus dilalui oleh para murid hanyalah sekiar setengah meter saja, dan ketinggiannya cukup menakutkan.
Sekolah yang ada memiliki lima gedung beton dan lapangan dengan papan bola basket, yang dibuat dari tiang kayu dan papan rusak. Tapi sampai sekarang murid2 dilarang melakukan tembakan ke arah tiang, karena jika meleset dan bolanya jatuh ke jurang, dibutuhkan waktu setengah hari buat mengambil bola itu.
Shen Qijun, 45, guru yang ada, berkali-kali ingin berhenti dari pekerjaan yang sudah dijalaninya selama 26 tahun ini. Tapi berkali-kali pula para penduduk menahannya, karena tidak ada orang lain yang mau mengajar anak2 di desa itu.
Shen mengajar Matematika dan Bahasa Cina, tapi kata Shen, selama 26 tahun ini hanya ada dua murid yang berhasil ke universitas, dan masalahnya hanya karena isolasi. Salah seorang relawan yang pernah mengajar di sekolah itu mengatakan: "Para murid bekerja keras sekali, tapi sama sekali mereka tidak pernah melihat komputer, mobil atau bahkan toilet duduk."



0 comments:
Post a Comment