The Meeting Point

Stories Behind the Making of Newspaper

In Memoriam: Heru Suprantio - Lelayu

by: YUK



Selasa (8/3) pagi, sekitar pukul 10, saya baru saja sampai di kantor, membuka beberapa halaman portal berita, mencari informasi sejenak sebelum mulai beraktivitas. Momen ini biasanya berjalan santai, menyenangkan, sekaligus mengumpulkan mood di pagi hari untuk mulai menulis berita. Ditemani segelas air putih hangat, jari sibuk mengetik keyword dan pencet-pencet mouse. Nyaman.


Tiba-tiba SMS masuk ke hape. Saya lirik sebentar, ah nanti saja deh bacanya. Maklum lagi seru browsing jadi sampai males meraih hape, padahal jaraknya hanya sejengkal jari itu. Setelah rampung, berselang sepuluh menit, saya baru meraih hape untuk membaca SMS tadi.


Sedetik membaca dan langsung kaget! Tidak percaya! Bahkan sampai gemetar mendorong scrollbar untuk membaca seluruh isi SMS tersebut. Isinya kabar kematian! Berita duka dari kawan mengabarkan, Heru Suprantio wartawan senior berpulang pagi ini karena serangan jantung.


Hampir gak percaya membaca SMS tersebut. Segera kroscek ke halaman FB yang bersangkutan dan ternyata benar adanya. Sudah banyak ucapan dukacita disampaikan di wall tersebut. Mata mulai berat, ada sedikit air mata tertahan di ujung pupil. Segera saya usap dan kembali melanjutkan membaca dengan hati yang penuh pertanyaan, rasa tidak percaya dan terbayang ucapan-ucapan almarhum semasa hidup.



Sosok Heru Suprantio


Saya memang tidak mengenal secara dekat sosok Heru Suprantio atau biasa dipanggil Tio di kalangan wartawan. Tapi sifat kebapakan dan karakter Pak Tio yang kuat, membuat saya nyaman bertukar pikiran atau sekedar ngobrol santai bersama dia. Dulu kami sempat bersama di Harian Jakarta sekitar tahun 2004-2005. Beliau redaktur dan saya jurnalis junior di sana. Sikapnya hangat, terbuka dan sangat ngemong. Ini yang saya rasakan selama bekerja meski Pak Tio tidak secara langsung menjadi atasan saya.


Di awal jelang tutupnya Harian Jakarta, kami semakin intens berkomunikasi. Pak Tio mempercayakan saya untuk mengisi halaman olahraga yang sejak awal saya inginkan. Beliau redakturnya namun juga menggawangi beberapa halaman lain. “Yuk, tolong tulis berita soal pertandingan sepakbola malam ini yah. Saya tunggu sampai jam 8 malam untuk kaki halaman 1,” ujarnya pada saya waktu itu. Saya sumringah. Bangga, sekaligus senang karena menulis berita olahraga adalah impian terbesar saya sejak dulu.


Pak Tio memberikan saya sebuah motivasi, dorongan dan kepercayaan yang besar untuk saya bisa maju. Ini yang saya rasakan dari sosoknya. Dia tidak ragu mendorong kita untuk mencoba hal baru, dalam supervisinya, dia tetap menjaga kaidah-kaidah dasar jurnalistik disamping memberi kebebasan total pada anak buahnya berpikir kreatif dan banting tulang di lapangan.


Hampir dua tahun bersama, kami berpisah. Saat-saat jelang berpisah itu kami memang sering ngobrol. Pak Tio banyak membagi pengalamannya soal dunia olahraga dan khususnya jurnalis olahraga. Dia juga bercerita soal awal menjadi jurnalis, sepak terjangnya di harian Suara Karya dan tabloid olahraga GO! Banyak yang saya petik dan simpan untuk jadi teladan dari dia. Salah satu kalimat yang membuat saya tertegun adalah : “Yuk masih muda. Kesempatan masih besar. Dulu di usia 26 tahun, saya sudah sempat keliling Asia, meliput berbagai peristiwa politik dan olahraga. Kamu pasti bisa lebih dari saya!” Merinding kalau dengar dan mengingat kembali kata-kata tersebut.


Berjumpa Kembali


Slogan “Facebook membantu kita tetap berhubungan dengan orang-orang yang dekat dengan kita” tampaknya benar. Dalam akun FB tersebut kami kembali bersua di dunia maya, meski tidak jumpa secara fisik. Melihat album foto pak Tio saya sempat tersenyum kecil dan ikut bahagia. Apalagi melihat pekerjaannya yang dinamis, berkeliling daerah, bahkan terakhir sempat ke Cape Town untuk melihat Piala Dunia 2010, yang pasti jadi piala dunia terakhir yang dilihatnya L


Januari 2011 tanggal 25 sore, Pak Tio mengirim pesan ke FB saya. Senang saya membacanya, sekaligus kembali diingatkan untuk maju dan berani mengambil “tantangan” dari dia. Kamipun berbalasan surat dan surat itu menjadi harapan tersendiri bagi saya di awal tahun 2011. Pak Tio pun akan segera menghubungi saya jika sudah mendapatkan kabar dan kepastian mengenai “tantangan” tersebut. Sambil menunggu kabar, saya mulai “melupakan” dan menekuni profesi saya. Sambil tentunya berharap dan bertanya, apalagi yang akan saya hadapi di depan jika saya ambil “tantangan” tersebut. Waktu berlalu dan hingga akhirnya, kabar dukacita itu sampai kepada saya hari ini.


Heru Suprantio orang yang modern. Sebagai muslim, dia menghargai keyakinan yang berbeda dengannya. Dalam arti, pikiran dan wawasan luas, memaknai sekali keberagaman dan arti Bhineka Tunggal Ika di Indonesia. Dia juga memiliki latar belakang keluarga yang heterogen. Suku, agama, ras dan antar golongan bukan hal yang tabu baginya. Pak Tio tahu betul apa itu masyarakat majemuk yang madani. Bukan hanya diucapkan di bibir, tapi sekaligus jadi integritas dari sosoknya yang murah senyum, humoris namun juga serius dan tegas! Kalau dia menelpon saya, selalu diawali dengan ucapan “Shalom” yang artinya kurang lebih “Damai Sejahtera untukmu” dan saya pun kembali membalasnya dengan salam serupa.


Satu lagi, Pak Tio bukan sosok yang mudah tersinggung. Dia selalu melihat segala masalah dalam perspektif yang jenaka. Meski ada juga marahnya, tapi keceriaan dan senyum selalu jadi cirri khasnya.


Yah, pak Tio memang meninggalkan banyak kenangan pada saya. Pada teman-teman eks Harian Jakarta ataupun Koran-koran dan media lain yang pernah merasakan kehadiran sosoknya. Pak Tio kadang juga jadi sosok yang misterius juga buat saya. Kadang mudah dihubungi. Kadang juga seakan raib ditelan bumi. Seperti sekarang, Pak Tio pergi dengan cepat, mendadak dan sekejab!


Tuhan punya rencana yang terbaik untukmu Pak Tio. Dia tahu yang terindah. Salam hormat! Selamat jalan … (yuk)

Original URL: http://pakdedungpret.wordpress.com/2011/03/08/606/

0 comments:

Welcome to The Meeting Point

Selamat datang di The Meeting Point..

Blog ini akan berisi cerita di balik sebuah media yang pernah meramaikan belantara pers Indonesia, khususnya di Jakarta.

Ya, ini adalah kisah kasih para jurnalis yang pernah menorehkan prestasinya di Harian Jakarta (d/h Jayakarta), yang sayangnya gulung tikar pada medio Agustus 2005. Meski begitu, kenangan indah selama berjuang jungkir-balik di Harian Jakarta, terus melekat di benak kami. Dan semua terlontar secara jujur melalui mailing list kami [HARJAK at yahoogroups. com].

Demikian indahnya cerita yang diungkap para pujangga kuli tinta di milis tersebut, menggugah saya untuk berbagi kepada dunia melalui blog kecil ini. Selamat membaca..

Search This Blog