Siang tadi, Elva mengirim pesan lewat YM: "Nin, Pak Tia meninggal"
Eh? Pak Tia? Saya bertanya-tanya dalam hati. Maksudnya Pak Pea atau Pak Tio? 'Siapapun yang dimaksud Elva sebenarnya akan sama-sama membuat saya shock,' begitu pikir saya.
"Pak Tio" jawab Elva.
Tulisan singkat itu membuat saya harus mengulangi baca hingga berkali-kali.
"Hah?? Yang bener loe???"
Sisanya, saya tidak begitu ingat--saking kagetnya. Tapi kira-kira Elva menulis begini: "Iya, dapet info dari Mbak Panti. Serangan jantung, di Bogor"
Saya menghela napas. Belum. Belum ada air mata turun di pipi. Bahkan, saya belum bisa "mengerti" kabar yang Elva sampaikan. Dengan tenang saya memastikan berita yang sama di facebook teman-teman HarJak.
Di laman FB, saya menemukan informasi serupa dari Yulius kepada saya, kepada Elva, kepada Iwan Qwonk, kepada Taufik.... Masih tenang, saya menulis status duka di FB saya. Hingga dua kali. Satu dari BB, satu lagi via web dengan me-mention nama Pak Tio. Rasanya kepala ini kosong..
Segera, saya mendatangi profile FB Pak Tio. Ucapan duka bertubi-tubi datang dari kawan dan kerabat beliau. Saya meng-klik profile istri Pak Tio, ditto, rentetan ucapan duka tertulis di wall beliau. Saya menyadari kalau saya belum terkoneksi dengan Bu Tio, saya pun meng-klik "add friend" seraya meninggalkan pesan, "Bu, turut berduka cita atas wafatnya Pak Tio. Saya adalah wartawan yang dididik Pak Tio dari nol sampai sekarang saya bisa menjadi editor dan penulis buku begini.."
Di wall saya sendiri, Elva meninggalkan komentar dan saya membalasnya: "Gw juga shock, Va... Sampe gak bisa ngomong apa2 kecuali tadi nanya ke elo lagi, untuk memastikan kalo gw gak salah baca.. Ya Allah, Vaaaa...secara dia redaktur pertama gw di HarJak, yg mbimbing gw untuk bisa jadi wartawan desk investigasi. Trus waktu dia jadi redaktur untuk berita pemboman Kuningan, gw keinget terus omongan dia, "Nina, coba tulis head yang bisa bikin saya merasakan baunya suasana!" Berkat Pak Tio gw bisa jadi penulis yg deskriptif.. Banyak banget jasa dia untuk karier gw sampe sekarang dan gw gak sempet ngomong terima kasih secara langsung ke beliau, Vaaaa.. *nangis beneran nih gw di kantor*
Ya, akhirnya saya menitikkan air mata. Teman-teman saya satu tim, satu ruangan cukup pengertian untuk tidak bertanya. Mereka paham. Saya bukan jenis perempuan cengeng. Selama 5 tahun saya bekerja di tempat ini, bisa dihitung berapa kali saya menangis di depan mereka. Tidak sampai satu tangan. Mereka tahu, air mata saya mahal.. dan hari ini saya tumpahkan air mata itu untuk guru, pembimbing, inspirator dan sahabat saya, Heru Suprantio.
Selamat jalan, Pak Tio... Semoga Allah meluruhkan dosa-dosa, dan menerima setiap jengkal amal ibadahmu.
Saat saya menulis ini, langit tumpah ke bumi. Saya yakin, di alam sana, Allah dan para malaikatnya, menyambut Pak Tio dengan sukacita, hangat dan gembira. Sang pujangga mulia telah pulang, meninggalkan kita dalam antrean kehidupan.
Selamat beristirahat Pak Tio. Suatu saat nanti, insya Allah, saya akan berkunjung ke rumahmu di surga-Nya. Hidangkan saya kue martabak mini ya, Pak! Hehe.. I'm going to miss you, sir..
* Nina Wijaya*
8 Maret 2011.
Di tanggal ini pula beberapa tahun lalu, sahabat saya berpulang
Eh? Pak Tia? Saya bertanya-tanya dalam hati. Maksudnya Pak Pea atau Pak Tio? 'Siapapun yang dimaksud Elva sebenarnya akan sama-sama membuat saya shock,' begitu pikir saya.
"Pak Tio" jawab Elva.
Tulisan singkat itu membuat saya harus mengulangi baca hingga berkali-kali.
"Hah?? Yang bener loe???"
Sisanya, saya tidak begitu ingat--saking kagetnya. Tapi kira-kira Elva menulis begini: "Iya, dapet info dari Mbak Panti. Serangan jantung, di Bogor"
Saya menghela napas. Belum. Belum ada air mata turun di pipi. Bahkan, saya belum bisa "mengerti" kabar yang Elva sampaikan. Dengan tenang saya memastikan berita yang sama di facebook teman-teman HarJak.
Di laman FB, saya menemukan informasi serupa dari Yulius kepada saya, kepada Elva, kepada Iwan Qwonk, kepada Taufik.... Masih tenang, saya menulis status duka di FB saya. Hingga dua kali. Satu dari BB, satu lagi via web dengan me-mention nama Pak Tio. Rasanya kepala ini kosong..
Segera, saya mendatangi profile FB Pak Tio. Ucapan duka bertubi-tubi datang dari kawan dan kerabat beliau. Saya meng-klik profile istri Pak Tio, ditto, rentetan ucapan duka tertulis di wall beliau. Saya menyadari kalau saya belum terkoneksi dengan Bu Tio, saya pun meng-klik "add friend" seraya meninggalkan pesan, "Bu, turut berduka cita atas wafatnya Pak Tio. Saya adalah wartawan yang dididik Pak Tio dari nol sampai sekarang saya bisa menjadi editor dan penulis buku begini.."
Di wall saya sendiri, Elva meninggalkan komentar dan saya membalasnya: "Gw juga shock, Va... Sampe gak bisa ngomong apa2 kecuali tadi nanya ke elo lagi, untuk memastikan kalo gw gak salah baca.. Ya Allah, Vaaaa...secara dia redaktur pertama gw di HarJak, yg mbimbing gw untuk bisa jadi wartawan desk investigasi. Trus waktu dia jadi redaktur untuk berita pemboman Kuningan, gw keinget terus omongan dia, "Nina, coba tulis head yang bisa bikin saya merasakan baunya suasana!" Berkat Pak Tio gw bisa jadi penulis yg deskriptif.. Banyak banget jasa dia untuk karier gw sampe sekarang dan gw gak sempet ngomong terima kasih secara langsung ke beliau, Vaaaa.. *nangis beneran nih gw di kantor*
Ya, akhirnya saya menitikkan air mata. Teman-teman saya satu tim, satu ruangan cukup pengertian untuk tidak bertanya. Mereka paham. Saya bukan jenis perempuan cengeng. Selama 5 tahun saya bekerja di tempat ini, bisa dihitung berapa kali saya menangis di depan mereka. Tidak sampai satu tangan. Mereka tahu, air mata saya mahal.. dan hari ini saya tumpahkan air mata itu untuk guru, pembimbing, inspirator dan sahabat saya, Heru Suprantio.
Selamat jalan, Pak Tio... Semoga Allah meluruhkan dosa-dosa, dan menerima setiap jengkal amal ibadahmu.
Saat saya menulis ini, langit tumpah ke bumi. Saya yakin, di alam sana, Allah dan para malaikatnya, menyambut Pak Tio dengan sukacita, hangat dan gembira. Sang pujangga mulia telah pulang, meninggalkan kita dalam antrean kehidupan.
Selamat beristirahat Pak Tio. Suatu saat nanti, insya Allah, saya akan berkunjung ke rumahmu di surga-Nya. Hidangkan saya kue martabak mini ya, Pak! Hehe.. I'm going to miss you, sir..
* Nina Wijaya*
8 Maret 2011.
Di tanggal ini pula beberapa tahun lalu, sahabat saya berpulang

0 comments:
Post a Comment