Aloha,
Kemarin malam di akhir November yang baru lalu, David Soepyan ngajak saya bertemu. Kita janjian di Citos, tapi akhirnya ketemu di McDonald di Pondok Indah. David mantan reporter Harian Jayakarta. Kita ngobrol agak panjang. Siang hari yang sama, saya juga bertemu dengan Agus karyawan, mantan redaktur Harian Jakarta.
Jakarta dan Jayakarta, nyaris sama bunyi maupun artinya. Kebetulan dua-duanya harian. Dan saya pernah singgah di kedua harian itu. Atau sebaliknya, kedua harian itu pernah menyelinap dalam kehidupan saya. Sangat kental, sampai tiap malam saya geluti hingga menjelang pagi.
Sekitar 20 tahun yang silam, di akhir tahun 1988, saya masih berstatus wartawan Harian Kompas. Saya harus bilang 'berstatus', karena pada kenyataannya saya waktu itu tidak boleh menulis. Gara-gara dinilai menjadi pentolan yang memelopori pembentukan serikat pekerja di koran tersebut sejak 2-3 tahun sebelumnya. Pada awalnya, saya didukung oleh Ucok Maruli Tobing, Irwan Yulianto dan Rikard Bagun. Namun ketiganya (beberapa hari setelah penandatanganan pendeklarasian serikat pekerja di redaksi), diam-diam meminta maaf kepada petingi di Kompas dan mengakui 'kesalahan' mereka.
Akhir tahun 1988, Albert Hasibuan SH dari Suara Pembaruan menawarkan pekerjaan sebagai Kepala Biro Suara Pembaruan di Amerika Serikat. Sementara itu pada saat yang sama, tulisan saya tidak pernah dimuat lagi di Kompas. Saya cukup lama terkena pembreidelan karena upaya mendirikan serikat pekerja di sana, dan diharapkan mengundurkan diri dari harian itu. Waktu itu, saya persilakan pihak Kompas memecat saja jika memang saya bersalah. Tetapi, mereka tidak mau memecat saya dan berharap saya yang mengundurkan diri sehingga sampai pertengahan tahun 1989, saya masih jgua berstatus wartawan di Kompas.
Setelah berdoa setiap malam selama berbulan-bulan, akhirnya saya terima tawaran dari Bang Hasibuan dan hijrah ke Suara Pembaruan. Saya dimintanya menyiapkan diri berangkat ke Amerika, guna menjadi kepala biro Suara Pembaruan di sana. Kebetulan ketika itu kontrakan rumah sudah hampir habis, sehingga saya tidak perpanjang lagi. Namun, pertengahan Agustus 1989 saya diminta membantu membidani penerbitan kembali Harian Jayakarta, yang ketika itu sahamnya baru dibeli oleh pihak Suara Pembaruan.
Tanggal 22 Agustus 1989 saya menerima daftar nama 11 orang tenaga redaksi dan lay out, diiringi dengan perintah agar Harian Jayakarta sudah terbit tanggal 1 September 1989. Saya banyak dibantu oleh Atmadji Sumarkidjo (redaktur Suara Pembaruan, sekarang di RCTI), Suryohadi (redaktur Suara Pembaruan, ketika itu jadi Pemred Jayakarta), Laurens Samsoeri (redaktur Suara Pembaruan, Wakil Pemred Jayakarta), serta Aco Manafe (wartawan senior Suara Pembaruan). Ada juga wartawan lama Jayakarta seperti Roso Daras dan rekan-rekannya. Namun sebagian besar hanya bertahan 1-2 minggu lalu hengkang bersama Peter Rohi. Roso, Iswati dan Khairuddin Zaman adalah dua di antara wartawan kawakan yang tetap menemani saya di Jayakarta.
Supaya agak mentereng, saya diberi pangkat Redaktur Pelaksana. Dengan persiapan semampunya, akahirnya tanggal 1 September 1989 Jayakarta terbit kembali. Setelah itu, Tuhan menyambut doa saya, selama beberapa bulan pertama berdatangan tenaga segar seperti Norman Meoko (kini di Sinar Harapan), Mulia Siregar (Pemred Monitor Indonesia), Ignatius Gunarto, Suud Bajeber, Diana Runtu, Primus Dorimulu, David Soepyan, Harry Ponto (pengacara kondang), Arlita (aktif di usaha jasa boga), Santhy Sibarani (sekarang di Media Indonesia), Handini, Yonathan nDjuruhapa, dan banyak lagi. Selain itu, bergabung juga wartawan yang sudah berpengalaman seperti Abbas, Timbo Siahaan (sekarang pimpinan Jak's TV), Tiana, Yan Nabut (masih aktif jadi redaktur olahraga), Yon, Herman Hakim Galut (kini di Voice of America), Mulyadi, Rina Gintings (sekarang kembali ke Saura Pembaruan) dan lain-lain. Teman-teman yang masih baru, langsung msuk pendidikan di 'pesantren kilat'.
Saya tidak lama di Jayakarta. Namun segalon tinta tidak akan cukup buat menuliskan secara lengkap cukilan perjalanan hidup saya yang hanya beberapa bulan di Harian Jayakarta. Tahun 1990 saya berangkat ke Amerika, beberapa saat sebelum Perang Teluk berkecamuk. Ketika Perang Teluk pertama meletus, saya sudah keluar-masuk Pentagon dan State Department maupun Kongres AS di Washington DC, meliput sebagai koresponden Suara Pembaruan di sana.
Pulang dari Amerika tahun 1997, saya dijanjikan suatu jabatan dengan tingkat imbalan tertentu. Tetapi karena sesuatu hal, janji tersebut akhirnya tidak dipenuhi. Saya cuma difungsikan sebagai staf di Litbang Suara Pembaruan, dengan total gaji Rp 900.000 per bulan. Saya keluar Agustus 1997 dan bergabung ke Surya Citra Televisi dengan penghasilan lebih dari lima kali lipat dibandingkan gaji di Suara Pembaruan.
Tahun 2002 saya keluar dari SCTV, membangun Arendi Kemala, perusahaan konsultan manajemen krisis. Suatu ketika, ada urusan yang membawa saya bertemu dengan Upa Labuhari dan Timbo Siahaan di dekat Gedung Akademi Pariwisata di sekitar Semanggi. Timbo dan Upa (selain membahas urusan saya), kemudian meminta saya menyusun program pelatihan bagi wartawan Harian Jakarta dan Majalah Pilars. Permintaan itu kemudian dilanjutkan juga dengan permintaan Mochtar Siahaan (ketika itu Pemred Jakarta), yang malah menjanjikan saham bagi saya jika saya bersedia bergabung.
Walau saya ketika itu sedang menangani beberapa proyek, akhirnya saya penuhi permintaan teman-teman lama tersebut. Awalnya saya bergabung sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Harian Jakarta. Saya diberi keleluasaan merekrut wartawan baru, melatih melalui 'pesantren kilat' Al Kuhon, dan menugaskan mereka. Melalui rekrutment itulah terjaring Agus Karyawan, Abdul Samad, Rina Rahardjanti, Ririen, Lila, Cice, Elva, Yulius, Dwi, Iwan Suci Jatmiko, Ulisari, Lisa, Coki, Elvira Anna, Yudi, Wiwiek, Uup, Nazhori, Herwanto, Folmer, Erguna, Nina, Riri dan lain-lain. Meoko juga hampir masuk kembali, begitu pula Jannus Siahaan (sekarang Direktur PT Inco).
Pergumulan saya di Harian Jakarta sebetulnya cuma sekitar lima bulan. Saya masuk Maret 2004 (sebagai Wakil Pemred), dan keluar awal Agustus 2004 (sekitar sebulan setelah jadi Pemred). Selama lima bulan tersebut, rata-rata saya habiskan waktu sekitar 16 jam per hari bagi Harian Jakarta. Hampir tiap hari saya berangkat pagi dan pulang menjelang dinihari.
Saya memastikan diri keluar dari Harian Jakarta ketika Timbo Siahaan selaku direktur menyatakan ingin menduduki jabatan Pemred Jakarta, suatu sore (kalau tidak salah tanggal 10 Agutus 2004). Dua jam setelah itu saya memimpin rapat redaksi, seperti biasa, tanpa ada tanda-tanda bahwa saya akan pergi. Dalam rapat itu, saya tagih laporan dari masing-masing redaktur, sesuai dengan yang diproyeksikan sebelumnya. Rapat dihadiri juga oleh Timbo Siahaan dan Yulizar (dari pihak perusahaan, yang diminta Timbo menjadi saksi).
Malam itu juga saya pamitan (secara fisik) dari teman-teman. Namun, secara jiwani saya masih juga bersama dengan teman-teman. Dan sampai sekarang, kita masih juga bersama-sama. Ternyata, kebersamaan itu membangkitkan kekuatan.
Setidaknya, kekuatan yang membawa kita bertemu kembali.
Paling tidak, kita semua diundang reunian oleh Ria dan Yuk. Iya kan?
(malam Minggu, akhir November 2008)

0 comments:
Post a Comment