The Meeting Point

Stories Behind the Making of Newspaper

Nostalgia bersama KEPOMPONG (Part 1)

by Choki


Kami bertemu lagi, setelah 10 tahun tak bersua. Dia mengambil gitar,
kami lalu bernyanyi. Mengingat lagi masa-masa muda, masa-masa di mana
bathin berdetak sangat kencang. KEPOMPONG, Sind3ntosca.

Dulu kita sahabat/ Dengan begitu hangat/ Mengalahkan sinar mentari
Dulu kita sahabat/ Berteman bagai ulat/ Berharap jadi kupu-kupu

Bridge:
Kini kita berjalan berjauh-jauhan/ Kau jauhi diriku karena sesuatu/
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan/ Namun itu karena ku sayang

Reff :
Persahabatan bagai kepompong/ Mengubah ulat menjadi kupu-kupu/
Persahabatan bagai kepompong/ Hal yang tak mudah berubah jadi indah/
Persahabatan bagai kepompong/ Maklumi teman hadapi perbedaan/
Persahabatan bagi kepompong

(Kau kini telah menjadi 'kupu-kupu', sahabat. Cantik, segar pula.
Maafkan aku waktu itu. God bless u)


====================
Tanggapan Bang Yon:
Kau kini telah menjadi 'kupu-kupu', sahabat. Cantik, segar pula.
Maafkan aku waktu itu. God Bless U ...

kira-kira siapa ya, yang dimaksud choki 'kupu-kupu' nanti cantik, segar, dan dia merasa berdosa sehingga harus minta maaf itu ... ?
ada yang bisa bantu?

yon moeis
(yangsudahjanjianamadaviduntuksegerabertemujugadenganharrypontoh)


Tanggapan Panti:
Chok, udah deh jangan berkhayal... ..udah pinter pakai motor belom? Aku masih inget ceritanya dia nih...dan kalau inget masih suka ketawa sendiri.

Dia tuh gondrong, tapi takut naik motor di Jakarta. Meski penakut sok jago. Karena malas menyeberang di Jl Gatot Subroto, dia sok jago lewat jembatan penyeberangan. Padahal tanjakannya tinggi banget. Tar kalau lagi mau naik, nyali langsung ciut. Belum lagi papasan ama motor lain. Brrrrr...... ....

0 comments:

Welcome to The Meeting Point

Selamat datang di The Meeting Point..

Blog ini akan berisi cerita di balik sebuah media yang pernah meramaikan belantara pers Indonesia, khususnya di Jakarta.

Ya, ini adalah kisah kasih para jurnalis yang pernah menorehkan prestasinya di Harian Jakarta (d/h Jayakarta), yang sayangnya gulung tikar pada medio Agustus 2005. Meski begitu, kenangan indah selama berjuang jungkir-balik di Harian Jakarta, terus melekat di benak kami. Dan semua terlontar secara jujur melalui mailing list kami [HARJAK at yahoogroups. com].

Demikian indahnya cerita yang diungkap para pujangga kuli tinta di milis tersebut, menggugah saya untuk berbagi kepada dunia melalui blog kecil ini. Selamat membaca..

Search This Blog